16
September
2026
Rabu - : WIB

Gema Syiar Islam di Bumi Ngagel: Merawat Spirit Perjuangan Mbah KH. Abdurrahman lewat Haul ke-104

wartaphoto
2026/07/02 pada Berita, Pati, wartaphoto
Haul ke-104 Mbah KH. Abrurrahman, Ngagel, Dukuhseti, Pati. (Foto: Dimas)

WARTAPHOTO.NET. PATI – Aroma keberkahan menyelimuti Bumi Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Menjelang akhir Juni 2026, masyarakat Desa Ngagel tumpah ruah merayakan sebuah hajat akbar: Haul ke-104 Simbah KH. Abdurrahman bin KH. Yahya yang digelar bersamaan dengan HUT Ke-94 Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM).

​Perhelatan yang berlangsung selama sepekan penuh—sejak 26 Juni hingga 1 Juli 2026—ini bukan sekadar seremonial tahunan yang lewat begitu saja. Bagi warga setempat, momentum ini adalah ruang refleksi besar untuk merawat spirit perjuangan para muassis (pendiri) yang telah meletakkan fondasi peradaban Islam di sana.

Tahlil Umum dalam rangka Haul Mbah KH Abdurrahman. (Foto: Dimas)

​Benteng Dakwah di Era Kolonial
​Bagi masyarakat pesisir utara Jawa, sosok KH. Abdurrahman Yahya—atau yang akrab disapa Mbah Drahman—adalah ulama karismatik yang menjadi jangkar moral umat. Perjalanan dakwahnya menembus batas waktu, membekas kuat lewat peninggalan monumental yang masih kokoh berdiri hingga hari ini: Masjid Baiturrahman, yang didirikan pada tahun 1903.

​Mengutip catatan sejarah dari NU Online, di tengah impitan penjajahan Belanda yang serbaterbatas, Mbah Drahman dengan cerdik memanfaatkan Masjid Baiturrahman bukan hanya sebagai tempat ibadah. Masjid tersebut menjelma menjadi benteng pertahanan dakwah sekaligus pusat pembelajaran taktis yang berhasil luput dari radar pengawasan kolonial.

​Ketika Mbah Drahman berpulang ke haribaan Ilahi pada tahun 1922, beliau tidak hanya meninggalkan sebuah bangunan fisik masjid. Lebih dari itu, beliau mewariskan fondasi keilmuan yang kukoh serta berhasil mendidik putra-putrinya menjadi ulama-ulama yang alim.

Peziarah padati Makam Mbah KH Abdurrahman. (Foto: Dimas)

​Poros Ilmu Pati Utara dan Lahirnya YAPIM
​Sepuluh tahun pascawafatnya sang ayah, tepatnya pada tahun 1932, para putra Mbah Drahman melanjutkan estafet perjuangan tersebut dengan merintis Madrasah Manahijul Huda—embrio yang kini bertransformasi menjadi YAPIM, sebuah payung pendidikan Islam yang disegani.

​Ketokohan moral dan kedalaman ilmu Mbah Drahman telah menempatkan Desa Ngagel sebagai poros ilmu utama di kawasan Pati Utara. Pada masanya, ulama-ulama dari berbagai penjuru daerah datang dan berguru di desa ini. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keberadaan Masjid Baiturrahman menjadi inspirasi dan cikal bakal lahirnya gurita pesantren besar yang kini tumbuh subur di sekitar wilayah Ngagel.

Makam KH Abdurrahman dipadati peziarah. (Foto: Dimas)

Geliat Syiar: Dari Getaran Doa hingga Ledakan Tawa
​Untuk menghormati warisan sejarah yang agung tersebut, dzuriyah (keturunan), santri, alumni, serta seluruh pemangku kepentingan yayasan menggelar rangkaian kegiatan sepanjang pekan. Rangkaian acara ini memadukan kekhidmatan spiritual dengan kegembiraan komunal.

​Di area makam (maqbaroh) Mbah Abdurrahman, lantunan doa tak putus-putus dipanjatkan lewat Tahlil Umum, Maulid Santri, Tahtimul Qur’an, hingga pembacaan Maulid Burdah. Sementara itu, atmosfer kegembiraan masyarakat juga dihidupkan melalui Bazar YAPIM, jalan sehat siswa-siswi, reuni akbar lintas generasi, hingga agenda edukatif seperti Sosialisasi Empat Pilar DPD RI bersama Hj. Denty Eka Widi Pratiwi.

​Puncak Malam yang Menggetarkan Jiwa
​Kemeriahan mencapai puncaknya pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Suasana religius mendadak cair dan hangat saat komedian yang juga anggota DPD RI, H. Alfiansyah Bustomi alias Komeng, hadir bersama Rizki Maulana (Kimau Gerbang) untuk menyapa warga. Gelak tawa pun pecah di tengah Bumi Ngagel.

​Namun, keceriaan itu segera bermutasi menjadi kekhidmatan yang magis saat Pengajian Umum dimulai. Ustadz Subki Al Bughury hadir memberikan tausiyahnya yang menyejukkan hati. Malam panjang itu akhirnya ditutup dengan indah oleh gema selawat yang menggetarkan jiwa bersama Habib Ali Zainal Abidin Assegaf asal Jepara.

​Lewat Haul ke-104 ini, rona dan api perjuangan Mbah Abdurrahman dipastikan tidak pernah padam. Ia akan terus hidup, menyala, dan menuntun langkah generasi masa kini di Bumi Ngagel.

Reporter: Dimas
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close