
JUWANA | WARTAPHOTO.NET – Suara riuh aktivitas pekerja galangan terdengar di tepian Sungai Silugonggo. Pemandangan kontras terlihat di galangan kapal Berkah Mina Group, Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Kamis sore (16/7/2026). Setelah sempat sunyi berbulan-bulan, aktivitas docking dan perawatan alat tangkap di lokasi ini kembali menggeliat hebat.
Pantauan Wartaphoto di lokasi, di bawah bentangan paranet hitam yang menahan terik matahari, hamparan jaring tampak memenuhi area galangan. Sejumlah nelayan duduk berkelompok, dengan jemari telaten merajut dan merapikan kembali jaring-jaring mereka yang sempat terparkir lama. Di sekeliling mereka, lambung-lambung kapal tangkap berukuran besar berdiri kokoh, bersiap untuk kembali diturunkan ke laut.
Gairah baru ini membuncah setelah pemerintah pusat resmi menetapkan harga khusus BBM industri bagi nelayan sebesar Rp 15.000 per liter untuk kapal berukuran 30 hingga 200 Gross Ton (GT). Kebijakan ini dinilai menjadi oase di tengah tingginya biaya operasional yang sempat mencekik perekonomian masyarakat pesisir.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas respons cepat dari Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, keputusan ini menjadi angin segar setelah ribuan nelayan sempat menggelar aksi unjuk rasa pada 4 Mei 2026 lalu.
“Kami ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Pak Presiden, yang telah menetapkan harga industri BBM bagi nelayan dengan kapal 30 Gross Ton ke atas,” kata Eko.
Ia membeberkan, sebelumnya para nelayan sengaja memilih memarkir kapalnya lantaran kalkulasi bisnis yang tidak masuk akal akibat tingginya harga solar industri yang sempat menyentuh angka Rp 30.000 per liter.
”Bukan masalah tidak bisa melaut. Kalau dipaksakan berangkat dengan harga BBM yang kemarin itu, jelas tekor dan tidak akan menutup biaya operasional kita selama melaut,” terang dia.
Eko menambahkan, pascakeluarnya regulasi baru ini, ada sekitar 350-an kapal jenis purse seine di bawah naungan paguyubannya yang kini mulai bersolek melakukan perbaikan fisik. Rencananya, mereka akan melakukan keberangkatan massal pada bulan Agustus mendatang menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 di Laut Aru, Papua.
Dampak positif dari penurunan harga BBM ini juga dirasakan langsung oleh para pengusaha kapal. Juwari, salah satu pemilik kapal asal Desa Bendar, Kecamatan Juwana, mengungkapkan bahwa selisih harga BBM non-subsidi pada skema sebelumnya sangat membebani biaya produksi, terlebih harga komponen sparepart kapal di pasar juga ikut naik.
”Harga yang sekarang ditetapkan pemerintah sangat membantu sekali. Soalnya dulu di harga Rp 20.000 saja sudah berat, apalagi kemarin sempat sampai Rp 30.000 per liter,” ungkap pemilik lima unit kapal tangkap ini.
Bagi Juwari, harga Rp 15.000 per liter ini adalah angka ideal agar hasil penjualan ikan bisa menutupi biaya operasional. Langkah politik pemerintah ini sekaligus menyelamatkan nasib ratusan Anak Buah Kapal (ABK). Juwari sendiri mempekerjakan sekitar 45 orang per kapal, yang diakuinya terpaksa menganggur total sejak masa libur Lebaran lalu demi menunggu kepastian regulasi.
Sebagaimana diketahui, jeritan nelayan Pantura ini sempat memuncak pada awal Mei lalu. Ribuan nelayan dari berbagai paguyuban memadati Alun-alun Pati dengan membentangkan spanduk protes bertuliskan “Kapal Kami Bukan Tesla! Solar Mahal Nelayan Mati!”. Lewat ketetapan harga baru ini, asa nelayan Juwana untuk kembali berjaya di lautan nusantara kini kembali terbuka lebar.
Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad