
Di kesempatan itu, Komunitas Kethek Seprapat ikut memeriahkan Festival Adhi Loka. Kelompok seni dari Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana itu mementaskan sentratari yang dibalut dengan kostum daur ulang sampah. Para lakon yang main di panggung tampak elegan.
Diketahui, seniman Kethek Seprapat menggunakan kostum dari limbah-limbah di Sungai Juwana. Mereka memanfaatkan limbah itu guna menjadi pakaian pentas di berbagai ajang festival budaya, termasuk malam tadi.
“Komunitas Kethek Seprapat memeriahkan Hari Jadi Pati ke-703. Tema limbah sampah, kita nggak beli karena sampah bisa kita buat, seperti rongsokan jadi atribut,” ungkap seniman Kethek Seprapat, Bendot, kepada Wartaphoto.
Komunitas ini sudah dikenal masyarakat. Sebab, Kethek Seprapat kerap tampil di berbagai kemeriahan karnaval.
Komunitas yang berdiri sejak 2012 ini beranggotakan 70 personel. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa.
“Anggota kami 70 orang, ada yang sudah tua, ada yang anak-anak sudah ikut tetapi dengan kita seleksi. Gaya kami tidak ada alas kaki. Darimana pun pengen ikut bisa, tetapi kami seleksi harus tampil perfect,” ujarnya.
Kethek Seprapat tampil di penghujung pentas. Mereka seolah menyindir semua unsur masyarakat lantaran kerap mengotori lingkungan dengan berbagai macam limbah.
“Kita menggunakan pakaian yang terbuat dari sampah. Sampah-sampah ini kita ambil dari Sungai Silugonggo,” teriaknya dari atas panggung.
Usai pentas, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra memberikan applause. Bahkan orang nomor satu di Kabupaten Pati itu ikut foto bersama para seniman Kethek Seprapat.
Reporter: Arton
Editor: A. Muhammad