16
September
2026
Rabu - : WIB

Lomban Kupatan Sungai Tayu, dari Kirab, Makan Ketupat Bersama hingga Larung Sesaji ke Laut Jawa

wartaphoto net
2024/04/20 pada wartaphoto

WARTAPHOTO.net.PATI – Masyarakat Kabupaten Pati bagian utara gelar budaya Lomban Kupatan yang dipusatkan di sungai Tayu.
Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan pada lebaran idul fitri ke-7 atau lebaran ke-10. Berbagai kegiatan hiburan masyarakat disuguhkan, mulai parade marching band, barongan, karnaval ogoh-ogoh hingga larung sesaji.

Sesaji berupa kepala kerbau diarak keliling Desa Sambiroto. Sebelumnya sesaji tersebut didoakan di TPI (tempat pelelangan ikan) kemudian dilarung ke muara Sungai Tayu, Pati, Jumat (19/4/2024).

Parade karnaval diberangkat dari kantor desa setempat menuju TPI Tayu. Sesaji dinaikkan ke perahu nelayan menyusuri aliran Sungai Tayu, untuk kemudian dilarung ke muara, yakni laut utara Pulau Jawa.

Masyarakat terlihat antusias menyaksikan tradisi tahunan ini. Bahkan beberapa perantau sengaja menunda untuk balik ke kota hanya sekedar menyaksikan tradisi lomban kupatan sungai Tayu ini.

Salah satu warga Tayu, Nurhadi mengaku sengaja menunda balik ke perantauan di Karawang hanya untuk mengikuti larung sesaji dan lomban kupatan ini. Menurutnya, tradisi tahunan ini memang selalu dinanti masyarakat sebagai penutupan lebaran dengan makan ketupat bersama.

“Kebetulan nggak kerja di pabrik, jadi baliknya bisa tak undur mas (saya tunda). Karena lomban Tayu ini kan even khas yang sudah menjadi tradisi warga Tayu. Nanti kita ikut melarung sesaji sampai lak (muara sungai -red) sana,” ungkapnya.

Diketahui, larung sesaji itu merupakan ritual utama dalam tradisi Lomban Kupatan di Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.

Menurut Kepala Desa Sambiroto Sulistiono, tradisi Lomban Kupatan mulai dilaksanakan pada 1950-an.

“Yang mengawali tradisi ini ialah leluhur kami yang bernama Pak Wedono. Dulu, setiap sepekan setelah lebaran, beliau dan penggawanya selalu lomban (menaiki perahu di sepanjang sungai-red),” katanya.

Ketika melakukan lomban, Wedono (pembantu pimpinan wilayah Daerah Tingkat II -kabupaten) juga menyembelih kerbau untuk dilarung sebagai wujud syukur. Kebiasaan Wedono tersebut kemudian menjadi tradisi yang dilestarikan masyarakat setempat hingga kini.

“Yang dilarung bukan hanya kepala kerbau. Kalau kepala kerbau khusus untuk di muara sungai. Ada sesaji lain yang diletakkan di hilir sungai, yakni kepala, kaki, dan ekor kambing. Ada pula ayam putih mulus,” jelas Kades Sambiroto.

Tradisi turun temurun ini dipercaya sebagai upaya tolak bala oleh masyarakat Desa Sambiroto yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Ada kepercayaan di masyarakat, bahwa kegiatan ini dapat menolak musibah yang mungkin melanda mereka ketika tengah bekerja di laut.

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close