17
September
2026
Kamis - : WIB

Mengenal Mandailing, Kesenian Khas Pati yang Hampir Punah

wartaphoto net
2024/08/19 pada Berita, Muria Raya, Nasional, Pati

WARTAPHOTO.NET PATI – Kesenian Mandailing atau yang dikenal juga dengan Mandeling/Mandiling, dulunya sangat mashur di Kabupaten Pati. Namun kini, keberadaannya hampir punah.

Kesenian Mandailing lahir di daerah pesisir Kabupaten Pati. Kesenian ini merupakan gabungan dari berbagai seni. Seperti seni tari, suara, musik, dan drama.

Lagu-lagu yang dibawakan kesenian ini adalah lagu khas melayu, terkadang juga disisipi dengan pantun.

Mandailing memiliki nilai historis yang kuat lantaran menunjukkan jejak perdagangan di nusantara. Yang mana, menggambarkan pertemuan para pedagang dari berbagai bangsa dengan latar belakang yang berbeda.

Dalam cerita, ada tokoh yang bernama Ibrahim, Adam, Sinyo, dan Nonik. Tokoh-tokoh itu merepresentasikan bangsa Arab, Belanda, China dan Indonesia.

Diceritakan, tokoh lintas bangsa tersebut bertemu saat hendak berdagang di Pulau Jawa.

Salah satu kelompok Kesenian Mandailing yang masih eksis di Bumi Mina Tani hingga saat ini adalah Sinar Buana dari Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti.

Para pemainnya sudah lanjut usia. Meski begitu, mereka sangat antusias memainkan kesenian khas pesisir tersebut.

Salah satu pemain Mandailing, Sugiyanto (74) mengatakan, kesenian itu sudah ada sejak tahun 1970. Bahkan diperkirakan lebih lawas lagi.

“Awalnya dulu saya suka lihat pentas Mandiling, kemudian diajak bergabung. Sudah ikut sejak 18 tahun,” kata dia kepada Wartaphoto (18/8/2024).

Ia menjelaskan, kesenian Mandailing sudah diajarkan turun temurun oleh orang-orang zaman dahulu. Bahkan lagu yang dibawakan sesuai yang diajarkan sebelumnya. Sehingga, dia pun tak memahami secara persis makna dari lagu yang dibawakan.

“Selain layang tabik ada banyak lagu lawas lainnya, seperti gembala sapi, turijal, fatimah, adik suntaria. Tapi sekarang jarang yang bisa mengiringinya,” jelas dia.

Zaman dulu mandailing diiringi oleh akordeon. Namun sekarang, sudah diganti dengan organ.

Suyoto, salah satu tim dari Sinar Buana menuturkan, meski didominasi lagu, namun Kesenian Mandailing menyisipkan cerita di dalamnya.

Di mana tokoh Arab yang hendak menyebarkan agama Islam dan berdagang bertemu orang tiongkok yang mau berjualan obat-obatan. Mereka juga bertemu kapten yang representasi orang Belanda dan Nonik putrinya.

“Mereka hendak berdagang ke pulau Jawa dan di sana terjadi interaksi serta diisi dengan nyanyian dan dikemas dengan komedi,” tutur dia.

Ia mengatakan, sekarang ini, para pemain Mandailing banyak yang sudah berumur. Pemain di kelompoknya rata-rata berusia 70 tahun.

Meski sudah berumur, namun para pemainnya tetap bertahan karena ingin nguri-uri kesenian yang sudah lama terpendam. Mereka berharap kesenian ini  tetap lestari.

“Biasanya kami main saat ada sedekah bumi. Kadang juga diundang saat ada orang hajatan,” ucap dia.

Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close