
WARTAPHOTO.net. Minggu, 26 Desember 2004, atau 20 tahun yang lalu, adalah tanggal yang selalu diingat warga Aceh, Indonesia bahkan dunia. Gelombang Tsunami Aceh adalah salah satu tragedi bencana besar pada abad 21. Tidak hanya merenggut ratusan ribu nyawa, peristiwa ini juga menyebabkan banyak bangunan dan harta benda hilang.
Gempa bumi berkekuatan 9,1-9,3 Skala Richter di lepas pantai barat Sumatra saat itu menyebabkan gelombang air laut naik hingga 30 meter. Kejadian pada 07:58 WIB ini memporakporandakan Aceh.
Data PBB menyebut korban meninggal akibat tsunami Aceh mencapai 230.000 jiwa lebih. Sekitar 500.000 orang kehilangan tempat tinggal, dan kerugian materiil akhibat bencana ini ditaksir mencapai US$ 4,5 miliar.
Pemerintah Indonesia, bersama dengan organisasi internasional, aktivis lingkungan, dan masyarakat sipil, berupaya melakukan pemulihan dan rekonstruksi pasca terjadinya bencana.
Bantuan kemanusiaan, pembangunan infrastruktur, dan program pemberdayaan ekonomi dilakukan untuk membantu korban beserta keluarga. Namun pemulihan tidak hanya tentang membangun kembali infrastruktur, tetapi juga soal membangun kembali kehidupan serta menjaganya.
Mitigasi Bencana
Tsunami Aceh adalah bencana besar yang pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah manusia. Hal ini akhirnya menumbuhkan kesadaran bagi banyak pihak untuk lebih waspada dan sigap soal mitigasi bencana.
Salah satu caranya adalah dengan menanam mangrove di sepanjang garis pantai di Indonesia, tak terkecuali di wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa, Pati, Jawa Tengah.
Sebelum Tsunami Aceh, mangrove belum terlalu dikenal oleh masyarakat yang jauh dari pesisir pantai. Namun kini kesadaran untuk menanam benteng kokoh pertahanan gelombang laut tersebut mulai ada.
Imam Rosidi, salah satu aktivis lingkungan yang berkontribusi dalam gerakan penanaman mangrove di Pati sejak 2014 ini memulai gerakan penanaman mangrove di garis pantai utara Jawa, Pati, Jawa Tengah, bersama teman-temannya.
“Mangrove bukan hanya melindungi pantai dari bencana, tapi juga menjaga keseimbangan ekosistem laut dan darat,” kata Imam.
Reporter: Ragil Kuswanto
Editor: Revan Zaen