
WARTAPHOTO.NET. SUKOLILO – Sejumlah warga mendatangi kawasan pertambangan yang berada di Desa Kedungwinong dan Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, Senin (14/4/2025) siang. Warga yang tergabung dalam jaringan “Sukolilo Bangkit” ini menuntut agar semua aktivitas pertambangan di seluruh wilayah Kecamatan Sukolilo dihentikan secara permanen.
Koordinator aksi, Slamet Riyanto mengatakan, kegiatan pertambangan di wilayah Sukolilo sudah berjalan selama puluhan tahun dan berdampak buruk terhadap lingkungan.
“Aksi hari ini adalah wujud kekesalan warga Sukolilo. Akibat pertambangan, saat musim kemarau ada banyak debu yang mengganggu pernafasan, sedangkan musim hujan sering terjadi banjir bandang. Tentunya kita semua masih ingat bencana banjir besar yang terjadi pada akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023. Banjir itu merendam setidaknya hampir 17 ribu hektare lahan persawahan di Pati, kami tidak ingin itu terus terulang,” kata Slamet.
Selain itu, lanjut Slamet, di area pertambangan pernah terjadi beberapa kali longsor hingga merenggut korban jiwa. Menurutnya, tanah longsor juga menjadi teror yang bisa datang setiap saat.
“Bencana longsor juga menjadi ancaman bagi warga. Awal bulan April 2025 Kemarin baru saja terjadi longsor yang mengakibatkan tiga hektare tanah warga ambruk,” ucap Slamet.
Warso, perwakilan pihak keluarga korban tanah longsor, menuntut agar pihak terkait bertanggung jawab penuh dan mengganti semua kerugian yang dialami oleh korban.
“Kemarin sempat bertemu kepala desa, namun terkesan lepas tanggung jawab dan melempar masalah ini ke pihak kabupaten,” kata Warso.
Selain itu, Warso juga mengaku tidak berani ke lahan garapan karena ada retakan yang cukup dalam dan panjang di tanahnya.
“Jalan menuju tanah pertanian kami rusak akibat longsor kemarin. Kami gagal panen. Sekitar tiga hektare tanah kami amblas terbawa longsor,” pungkas Warso.
Reporter : Ragil Kuswanto
Editor : Revan Zaen