16
September
2026
Rabu - : WIB

Ribuan Orang Mengantre Nasi Jangkrik dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus, Ini Alasan Dibalik Namanya

wartaphoto net
2025/07/06 pada Kudus

WARTAPHOTO.net.KUDUS – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kompleks Masjid Al-Aqsha dan Menara Kudus pada Minggu pagi (6/7/2025). Selepas Salat Subuh, masyarakat sudah mengantre demi mendapatkan nasi jangkrik, hidangan khas dengan bungkus daun jati dalam tradisi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus.

Panitia membagi jalur antrean menjadi dua. Laki-laki dari sisi utara dan perempuan dari sisi selatan. Sekitar pukul 06.00 WIB, pembagian nasi dimulai. Ribuan orang langsung memadati titik distribusi, bahkan membawa anak-anak, menggendong bayi, hingga rela berdesakan demi memperoleh keberkahan dari makanan tersebut. Panitia dibantu petugas keamanan membuat antrian tetap tertib.

Panitia mencatat, sekitar 36 ribu bungkus nasi berkat dibagikan pada tradisi tahun ini. Nasi tersebut terdiri dari dua jenis, yakni nasi jangkrik (nasi dengan kuah kering) dan nasi uyah asem (nasi tanpa kuah). Nasi uyah asem dibagikan gratis kepada masyarakat umum, sementara nasi jangkrik dan berkat besar diberikan melalui sistem kupon atau khusus bagi warga yang telah bersedekah.

Warga meyakini bahwa nasi jangkrik dan nasi uyah asem yang hanya dibagikan sekali dalam setahun pada Bulan Muharram ini mengandung berkah dari Sunan Kudus, Raden Ja’far Shofiq.

Salah satu warga, Kamil, mengaku rutin mengikuti tradisi Buka Luwur. Tahun ini, ia datang sejak pukul 03.00 WIB dan tidur di emperan toko sekitar Menara Kudus.

“Cuaca tadi pagi sempat turun hujan. Alhamdulillah, saya dapat satu,” ujarnya.

Arina, warga asal Jepara, juga mengaku selalu mengikuti tradisi ini karena percaya nasi jangkrik membawa keberkahan.

Juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nur Hakim, menyampaikan bahwa puncak tradisi Buka Luwur tahun ini jatuh pada 10 Muharam 1447 Hijriah. Dalam puncak kegiatan tersebut, panitia menyiapkan 9,1 ton beras, 19 ekor kerbau, dan 72 ekor kambing yang dimasak menjadi nasi berkat khas Buka Luwur.

“Masyarakat bisa mendapatkan nasi berkat dengan cara antre langsung atau menukarkan kupon hasil sedekah,” jelas Denny.

Proses memasak dan pembagian melibatkan hampir seribu orang perewang. “Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap Sunan Kudus yang berjasa menyebarkan Islam di wilayah ini,” ujar Denny.

Sebutan Nasi Jangkrik

Ia menambahkan, sebutan “nasi jangkrik” berasal dari cerita tutur masyarakat. Konon, seorang tokoh leluhur yang menikmati hidangan ini secara spontan berucap “jangkrik” karena saking lezatnya. Sejak itu, istilah tersebut melekat dan menjadi nama makanan khas Buka Luwur.

Dari dua jenis nasi yang dibagikan, nasi uyah asem dibagikan secara luas, sedangkan nasi jangkrik dengan kuah disalurkan khusus kepada ulama dan tokoh masyarakat.

Reporter: Revan

Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close