16
September
2026
Rabu - : WIB

Wayang Sampah Meriahkan Festival Berkat Bandeng di Juwana Pati, Edukasi Warga Soal Lingkungan

wartaphoto net
2025/11/22 pada Budaya, Pati, Wisata

WARTAPHOTO.net. JUWANA  – Pesan pelestarian lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang kreatif. Di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, edukasi itu diwujudkan melalui pertunjukan wayang sampah, bagian dari rangkaian Festival Berkat Bandeng pada Jumat (21/11) malam.

Pertunjukan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini menampilkan kreasi berbagai jenis limbah—mulai plastik, kantong kresek, hingga bambu—yang disulap menjadi tokoh wayang. Pagelaran dibawakan dalang Ki Slamet Tewel dan diiringi kelompok Gagego musik kampung, disaksikan ratusan warga.

Dalam lakonnya, Ki Slamet mengisahkan petani yang menjaga sungai dan irigasi dari sampah agar ekosistem tambak tetap bersih sehingga hasil bandeng tidak tercemar. Pesan ini selaras dengan tujuan festival: mengajak masyarakat menjaga lingkungan demi keberlanjutan tambak bandeng.

Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo, menyebut inovasi ini lahir dari tradisi wayang kulit yang sudah terkenal di desanya.

“Kalau wayang kulit di Bakaran Wetan sudah terkenal dan banyak dikenal. Dan wayang sampah ini baru pertama kali diselenggarakan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa media wayang sampah menjadi bentuk sosialisasi kepada petani bandeng dan warga agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

“Wayang sampah ini dari limbah dan ini adalah suatu bentuk gambaran kita sebagai petani harus menjaga lingkungan, menjaga irigasi, menjadi kali dari sampah-sampah itu,” ujarnya.

“Sampah itu bisa dimanfaatkan dalam bentuk gambaran wayang sampah dan diperuntukkan sebagai hiburan,” lanjutnya.

Panitia festival, Beni Dewa, menambahkan bahwa seluruh material wayang berasal dari sampah.
“Wayang dibuat dari sampah murni, ada yang dibuat dari plastik, kantong kresek, limbah bambu dan macam-macam,” terangnya.

Menurutnya, daur ulang sampah menjadi wayang merupakan strategi kebudayaan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak menggunakan dan mengelola sampah.

“Dari sampah dikemas menjadi bentuk wayang. Itu menjadi strategi kebudayaan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa untuk lebih bijak menggunakan sampah yang berpotensi memunculkan sampah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa sampah dapat mengancam ekosistem sungai yang menjadi sumber utama kehidupan tambak.

“Sampah itu akan mengganggu sungai, sungai itu akan menjadi salah satu sumber kehidupan di budidaya tambak. Makanya kita ambil tagline kaline resik bandeng e apik, itu dalam arti ketika sungai bersih maka hasil bandengnya akan menjadi lebih baik,” tambah Beni Dewa.

Festival Berkat Bandeng

Kades Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo menambahkan penampilan ini rangkaian dari acara festival berkat bandeng yang digelar mulai dari  21-23 November 2025. Festival ini adalah untuk meningkatkan dan mempromosikan bandeng agar kedepan terus dilestarikan oleh petani.

“Tentu bicara soal bandeng ini tidak hanya berbicara soal tambak, tapi juga berbicara soal ekologi dan lingkungan maka kami berharap tradisi budaya krigan yang dimiliki oleh petani tambak untuk membersihkan irigasi sungai tambak itu bisa dilestarikan ditingkatkan petani tambak sehingga itu adalah menjadi sumber kehidupan bagi petani kehidupan,” kata Wahyu.

Wahyu menjelaskan bahwa pertunjukan ini merupakan bagian dari Festival Berkat Bandeng yang digelar 21–23 November 2025. Festival tersebut bertujuan mempromosikan bandeng sekaligus memperkuat tradisi budaya terkait ekologi tambak.

Rangkaian kegiatan festival meliputi pameran seni dan foto, campursari, pelatihan membatik, kirab petani tambak, rembuk kali, resik kali, tradisi wiwit panen, pentas tari bandeng, hingga lomba olahan bandeng sebagai puncak acara.

“Puncak acara hari Minggu ada lomba olahan bandeng. Malamnya ada penutupan ditutup dengan hiburan dari congkrong jenaka,” pungkas Wahyu.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close