16
September
2026
Rabu - : WIB

Panggung sebagai Ruang Tumbuh: Regenerasi Teater Minatani Pati dalam Pentas Naskah Martir

wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Teater Minatani asal Kabupaten Pati kembali menunjukkan eksistensinya di dunia seni pertunjukan lewat Pentas Produksi ke-17 bertajuk “Martir”. Naskah karya Yudi Dodok bersama Siwigustin dan Sinta N. H ini sukses dipentaskan di dua kota, yakni di Kudus dan Semarang, beberapa waktu lalu.

Di bawah arahan sutradara Yudi Dodok, pertunjukan digarap dengan konsep yang segar dan komunikatif.

Sejak pertama memasuki gedung pertunjukan, penonton langsung disambut suasana yang menyerupai pameran seni rupa. Tak ada jarak kaku antara penonton dan panggung. Bahkan, Teater Minatani menyediakan lembaran kertas yang difungsikan sebagai ruang publik untuk menuliskan opini tentang makna kemandirian, kemerdekaan, perlawanan, perjuangan. Upaya ini menjadi bentuk komunikasi dua arah yang ingin dibangun antara pertunjukan dan penontonnya.

Secara tematik, “Martir (Resistensi Tiada Akhir)” merupakan respons Teater Minatani terhadap realitas sosial hari ini. Kritik sosial disampaikan melalui penghadiran sejumlah tokoh historis dan legendaris, seperti Nyai Ontosoroh, Roro Mendut, Siti Manggopoh, Samin Surosentiko, hingga legenda Dewata Cengkar.

Menariknya, selain menyuguhkan pertunjukan yang kuat secara gagasan, Teater Minatani juga menunjukkan komitmen terhadap regenerasi dengan melibatkan pelajar SMA sebagai aktor. Tiga siswa SMA Negeri 1 Pati, Joice, Caesar, dan Pri ikut terlibat dalam pementasan ini. Meski menjadi pengalaman pertama mereka di panggung teater, ketiganya mampu tampil meyakinkan dengan penjiwaan peran yang matang.

Caesar Pratama Ari Prastanto mengaku banyak mendapatkan pelajaran berharga selama proses latihan dan pementasan.

“Pengalaman saya selama ikut teater adalah bertemu orang-orang dengan berbagai macam sifat, belajar bagaimana menghadapinya, dan bagaimana menjadi orang yang berguna bagi orang lain,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Priagung Deta Rizkya, atau yang akrab disapa Pri. Siswa kelas X SMA ini menilai teater sebagai ruang aman untuk berekspresi.

“Dengan ikut teater, saya bisa meluapkan apa yang selama ini saya pendam. Saya juga mendapatkan dan memberi energi positif dari teman-teman teater, baik di proses suka maupun duka. Saya berharap bisa terus berproses dan berekspresi lewat teater,” ungkapnya.

Sementara itu, Joice Callista Arabella mengungkapkan ketertarikannya pada teater berawal dari kecintaannya pada dunia akting sejak kecil.

“Dulu aku suka akting, tapi merasa tidak punya wadah. Sekarang aku bisa menyalurkannya di Teater Minatani. Aku juga suka memerankan orang lain,” tuturnya.

Bagi Joice, teater bukan sekadar tempat mengasah bakat, tetapi juga ruang untuk belajar mengelola emosi dan kepekaan sosial.

“Teater itu wadah untuk menyalurkan, mengatur, dan memanajemen emosi. Aku berharap ke depan bisa terus bergabung, memberi energi positif, bersuara lewat teater, dan berdampak baik bagi orang-orang di sekitarku. Aku juga ingin punya kecerdasan emosional yang baik, karena menurutku itu sangat penting di masa sekarang dan masa depan,” pungkasnya.

Melalui “Martir”, Teater Minatani tidak hanya menyuarakan kritik sosial, tetapi juga membuka ruang tumbuh bagi generasi muda untuk belajar, berekspresi, dan berproses bersama dunia teater.

(*/wartaphoto).

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close