16
September
2026
Rabu - : WIB

Cegah Siswa ‘Mokel’, Sejumlah Madrasah di Pati Pilih Liburkan Program MBG

wartaphoto
2026/02/23 pada Berita, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Sejumlah Madrasah di Kabupaten Pati secara resmi menyatakan sikap untuk menolak pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan. Kebijakan ini diambil bukan sebagai bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan syariat dalam menjaga kualitas ibadah puasa para santri dan siswa.

Sebagaimana diketahui, jadwal pembagian MBG selama Ramadan tetap sama dengan hari biasa, yakni mulai pagi hingga menjelang azan Zuhur. Perbedaannya terletak pada jenis makanan yang diberikan. Jika biasanya siswa menerima menu makanan basah seperti nasi dan lauk-pauk siap santap, selama Ramadan menu diganti menjadi paket makanan kering agar lebih tahan lama dan dapat dinikmati saat berbuka puasa.

Meskipun demikian, sejumlah madrasah memutuskan untuk menolak pembagian MBG selama Ramadan. Beberapa di antaranya adalah sekolah di bawah naungan Yayasan Salafiyah Kajen dan Yayasan Al Ma’ruf Hadiwijaya / PGIP Kajen.

Ketua Yayasan Al Ma’ruf Hadiwijaya Kajen, Tomy Roisun Nasih, mengungkapkan bahwa keputusan ini berangkat dari pengalaman lapangan bertahun-tahun sebagai pendidik yang dekat dengan para siswa. Menurutnya, godaan bagi anak-anak untuk membatalkan puasa sebelum waktunya (mokel) sering kali muncul bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena faktor keisengan atau kesempatan.

​”Sebagai guru yang dekat dengan murid, saya sering mengecek satu per satu saat Ramadan. Banyak anak yang jujur bercerita bahwa mereka terkadang tergoda ‘mokel‘ saat pulang sekolah. Bayangan kami, jika anak-anak pulang sambil menenteng paket makanan (MBG), ini bisa menjadi pemicu mereka untuk tidak menyempurnakan puasanya di jalan,” ujar Gus Tomy, saat dikonfirmasi, Senin (23/2/2026).

Menurut dia, ​langkah PGIP Hadiwijaya ini didasarkan pada kaidah fikih yang kuat.

​دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

(Menolak kerusakan/kemafsadatan harus lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan)

Gus Tomy menegaskan bahwa meskipun program MBG memiliki tujuan yang sangat baik (maslahah) untuk gizi anak, namun risiko terjadinya pelanggaran syariat (pembatalan puasa tanpa udzur) menjadi kekhawatiran yang lebih besar (mafsadat).

​”Kekhilafan atau kemaksiatan terkadang timbul karena adanya kesempatan. Kami tidak ingin anak-anak terjebak pada hal sepele yang justru merusak pahala ibadah mereka. Menjaga amanah orang tua untuk mendidik karakter dan spiritualitas anak adalah prioritas kami selama bulan suci ini,” imbuh Ketua MWCNU Margoyoso ini.

​Pihak yayasan menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat situasional hanya selama bulan Ramadan. PGIP Hadiwijaya tetap mendukung penuh program-program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan siswa.

​”Setelah Ramadan usai, kami akan tetap menerima dan menjalankan program Makan Bergizi Gratis seperti biasa tanpa ada masalah. Ini murni soal momentum penjagaan ibadah di bulan puasa,” tegas Gus Tomy.

Ketua Umum Yayasan Salafiyah Kajen Pati, KH Ubaidillah Wahab, mengonfirmasi bahwa keputusan diliburkannya MBG selama Ramadan diambil demi menjaga kekhusyukan ibadah siswa. Ia menekankan pentingnya mencegah siswa membatalkan puasa di sekolah atau yang biasa disebut mokel.

“Iya (tidak menerima selama Ramadan) untuk menjaga supaya ibadah Ramadan-nya tidak terganggu dengan MBG. Agar tak membatalkan puasa,” ujar dia.

Ia menegaskan bahwa kebijakan ini berlaku bagi seluruh sekolah di bawah naungannya, mulai dari tingkat RA hingga MA/SMK.

“Kalau ada yang mblelo ya itu urusannya sendiri. Karena kami tak bekerja sama dengan SPPG mana pun (selama Ramadan),” tutur dia.

Ia menjelaskan bahwa opsi pembagian MBG pada sore hari menjelang berbuka puasa juga tidak memungkinkan, mengingat jam operasional madrasah yang sudah berakhir pada siang hari.

“Kalau sore siapa nanti karena madrasah itu pulangnya tidak sampai sore. Tidak ada saran saya. Yang penting di yayasan kami terjaga baik ibadah puasanya. Namanya madrasah basic-nya Ponpes,” tutur dia.

​Dengan kebijakan ini, sekitar 3.000 siswa di bawah naungan Yayasan Salafiyah Kajen dipastikan tidak menerima paket MBG selama bulan suci Ramadan. “Totalnya ada kurang lebih hampir 3.000 siswa,” ucap dia.

Sementara, Korwil MBG Wilayah Pati, Ahmad Khoirul Basar pun merespon adanya hal tersebut. Menurutnya, penolakan MBG selama Ramadan merupakan hak pihak sekolahan.

”Itu kan kebijakan sekolah, karena libur. Boleh saja bila ada penolakan selama Ramadan khawatir batalnya anak-anak itu diperbolehkan,” ujar dia, Senin (23/2/2026).

Saat ini pihaknya baru mendapatkan laporan dua yayasan yang menolak MBG selama Ramadan, yakni Yayasan Salafiyah Kajen dan Yayasan Al Ma’ruf Hadiwijaya.

”Dari pihak sekolahan membuat surat tak menerima MBG selama Ramadan aja. Di Margoyoso saja,” kata dia.

Meskipun demikian, ia memastikan oprasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap berjalan. SPPG yang bersangkutan tetap melayani pemenuhan gizi di sekolah yang masih menerima.

Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close