16
September
2026
Rabu - : WIB

Musala Wahyu Sejati: Menghidupkan Syiar dan Merawat Memori di Kedungbang Pati

wartaphoto
Musala Wahyu Sejati di Kedungbang, Tayu, Pati, yang Mendapatkan CSR BRI

WARTAPHOTO.NET. PATI – Aroma tanah kuburan yang identik dengan kesunyian, kini berganti dengan lantunan selawat dan doa. Di Desa Kedungbang, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, sebuah musala berdiri di kompleks tempat pemakaman umum. Musala itu berdiri bukan hanya sebagai tempat beribadah, melainkan juga pusat spiritualitas warga.

Musala itu bernama Wahyu Sejati. Tidak lahir begitu saja, nama ini membawa sejarah dan penghormatan bagi mendiang Edi Wahyudi, mantan kepala desa setempat periode 2004-2014.

Kepergian Edi Wahyudi pada 2021 silam meninggalkan duka mendalam. Sehingga pihak keluarga memilih merawat kerinduan dengan cara menggagas pembangunan tempat ibadah di kompleks makam. Saat musala didirikan pada tahun itu juga, warga dan tokoh masyarakat setempat berkumpul, berembuk mencari nama yang paling tepat.

“Kami berembuk, bagaimana kalau mengambil nama dari ‘Wahyudi’ untuk mengenang almarhum. Akhirnya tercetuslah nama Wahyu Sejati,” kata ketua panitia pembangunan, Musthofa, didampingi bendaharanya, Ghufron Al Yazidi, saat ditemui Wartaphoto.net di Musala Wahyu Sejati, Sabtu (23/5/2026).

Setelah pembangunan rampung, pihak keluarga mewakafkan bangunan tersebut kepada desa. Langkah ini pun disambut hangat oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungbang. Kehadiran musala di area pemakaman ini dinilai mampu menambah syiar Islam.

Meski berada di area makam dan jauh dari permukiman, Musala Wahyu Sejati tak pernah sepi. Berbagai kegiatan warga dilaksanakan di tempat ini. Mulai dari pengajian, tahlilan, hingga pembacaan Al-Barzanji.

“Kalau kegiatan besar itu selapanan setiap Selasa Wage. Ibu-ibu mengikuti pengajian yang dipimpin KH Ismail. Jemaahnya bisa 250 sampai 300-an orang. Tempat ini juga dibuat rutinan seni Terbang Jawa, terbangan klasik,” imbuh Ghufron Al Yazidi.

Saking banyaknya kegiatan warga dan membeludaknya jemaah, bangunan awal dirasa perlu pengembangan. Akhirnya, proyek perluasan mulai digulirkan warga pada Maret kemarin. Ikhtiar warga mendapat dukungan dari pihak korporat dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui Branch Office (kantor cabang) Pati sebesar Rp100 juta.

“Dengan dana itu, Maret kemarin kami fokuskan pada pembuatan fondasi, talud, dan struktur cakar ayam karena lokasinya di tanah labil dengan ketinggian delapan meter. Kalau ukuran musala baru ini 7 x 7 meter,” jelas Ghufron.

Meskipun mendapatkan bantuan CSR BRI sebesar Rp100 juta, namun proses pembangunan masih terus dilakukan secara bertahap. Pihak panitia memperkirakan bahwa untuk mencapai tahap penyempurnaan total, Musala Wahyu Sejati membutuhkan anggaran sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta.

“Mungkin nanti kita lanjut dengan swadaya masyarakat,” ucap Ghufron.

Branch Manager (kepala cabang) BRI Pati, Yuswandita Toesa Febrianto mengatakan, bantuan senilai Rp100 juta tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap fasilitas ibadah dan kesejahteraan masyarakat Kedungbang. Ia berharap, bantuan ini dapat membantu proses renovasi musala agar warga dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.

“Melalui program CSR BRI Peduli ini, kami berharap renovasi Musala Wahyu Sejati dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Desa Kedungbang. Tempat ibadah yang nyaman tentu akan mendukung aktivitas keagamaan masyarakat,” ujar dia saat menyerahkan bantuan secara simbolis, Jumat (22/5/2026).

Menurut Yuswandita Toesa, program CSR tersebut juga menjadi bentuk nyata komitmen BRI dalam mendukung kebutuhan masyarakat di lingkungan sekitar, khususnya dalam penguatan sarana sosial dan keagamaan. Keberadaan fasilitas ibadah yang lebih layak diharapkan mampu mempererat kebersamaan warga serta meningkatkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Musala Wahyu Sejati sedang bersolek, bersiap menjadi bangunan yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga kian kokoh dalam menampung doa-doa jemaah yang mengetuk langit. Dari Kedungbang Tayu, sebuah musala membuktikan bahwa sedekah jariyah dan gotong royong adalah “wahyu” yang sejati dalam merawat iman dan kebersamaan.

Reporter: Angga
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close