16
September
2026
Rabu - : WIB

Meneguk Ketenangan di Saung Kendi: Tempat “Kendalining Diri” dan Geliat Ekonomi Digital di Pati

wartaphoto
Seorang Pembeli Kopi di Saung Kendi Tampak Memindai Barcode QRIS untuk Menyelesaikan Pembayaran Pesanannya

WARTAPHOTO.NET. PATI – Deretan tanaman bonsai yang tertata rapi langsung menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk ke Saung Kendi.

Oleh pemilik kedai yang terletak di Gembleb, Kutoharjo, Pati ini, kopi disajikan bukan sekadar sebagai pemacu produktivitas harian atau pelepas dahaga, melainkan sebuah media untuk berkumpul, berkarya, sekaligus mengendalikan diri.

Luthfi Febri Adi Evan, pemuda asal Dukuh Runting, Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati, adalah sosok yang meramu filosofi hidup tersebut ke dalam cangkir-cangkir kopi.

Berdiri sejak tahun 2016, kedai kopi milik lelaki yang akrab disapa Evan ini menawarkan nuansa batin dan visual yang tak biasa.

Konsep perpaduan kedai kopi dan taman bonsai ini lahir dari sebuah obrolan hangat antara Evan dan sang ayah.

“Waktu itu rembukan sama Ayah. Saya mau jualan kopi, sedangkan ayah saya jualan bonsai. Akhirnya kami sepakat menggabungkannya agar kedua usaha ini bisa jalan beriringan,” kata Evan kepada Wartaphoto.net, Kamis (28/5/2026).

Nama “Saung Kendi” memiliki makna mendalam. Secara harfiah, Saung Kendi memang berarti tempat melepas dahaga. Namun, secara filosofis, “Saung” diartikan sebagai tempat bersantai untuk melepas penat, sementara “Kendi” merupakan akronim dari Kendalining Diri (pengendalian diri).

Di kedai ini, Evan menyediakan berbagai varian kopi, mulai dari lokal Pati, Temanggung, Flores, hingga Bali. Pelanggannya tak hanya datang dari penikmat kopi harian, tetapi juga para pemilik roastery (tempat sangrai kopi) dari wilayah Pati, Kudus, hingga Rembang.

Untuk menu kopi ireng atau original, Saung Kendi menawarkan Espresso (Rp10.000), Tubruk Robusta (Rp8.000), Kothok (Rp10.000), Javano (Rp13.000), hingga Filter Robusta (Rp15.000) dan Filter Arabika (Rp20.000).

Ada pula varian kopi susu kekinian dan es kopi mocktail yang segar dengan rentang harga Rp13.000 hingga Rp20.000-an. Bagi pengunjung yang tidak minum kopi, tersedia aneka teh, wedangan tradisional, jus, dan camilan hangat.

Bagi pelanggan yang ingin menyeduh sendiri di rumah, Evan juga menjual kopi kemasan. Kopi jenis Single Origin Arabika kemasan 200 gram dijual seharga Rp100.000 hingga Rp120.000. Sementara untuk Robusta, tersedia kemasan seperempat hingga 1 kilogram dengan rentang harga Rp150.000 sampai Rp250.000. Dibantu oleh tiga orang karyawan, Evan sukses menjaga kualitas rasa dan kenyamanan kedainya.

Perjalanan sepuluh tahun membesarkan Saung Kendi tentu menuntut banyak adaptasi. Salah satu langkah yang diambil Evan pada tahun 2026 ini adalah memperbarui sistem pembayaran kedai ke arah digital (cashless) demi memenuhi permintaan pelanggan.

“Banyak pelanggan yang tanya dan minta pembayaran digital karena lebih praktis, tidak perlu repot cari uang pas atau kembalian. Akhirnya tahun 2026 ini kami menyediakan layanan QRIS,” jelas Evan.

Langkah ini ternyata tidak hanya mempermudah pengunjung yang didominasi anak muda. Keberadaan QRIS juga mempercepat transaksi para pelaku usaha roastery yang membeli kopi kemasan dalam jumlah besar. Pelanggan cukup memindai kode QRIS menggunakan ponsel, dan transaksi pun selesai dalam hitungan detik.

Untuk mendukung kelancaran bisnisnya, Evan mengandalkan aplikasi BRImo. Melalui aplikasi tersebut, ia dapat memantau perputaran modal, mengecek saldo masuk dari transaksi QRIS, hingga melakukan transaksi jual-beli biji kopi dengan para petani dan distributor dari luar daerah secara real-time.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Memberikan Keterangan kepada Wartaphoto di Ruang Kerjanya

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menjelaskan bahwa QRIS dan BRImo ibarat dua mata pisau yang saling melengkapi dalam memangkas efisiensi transaksi masa lalu.

“Ibarat dua mata pisau, QRIS dan BRImo harus ada. Kita mengubah transaksi manual ke digital bagi masyarakat desa dengan berbagai literasi dan edukasi,” kata pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Digitalisasi keuangan ini dinilai menjadi faktor krusial dalam mendongkrak daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal tersebut diungkapkan oleh Khabib Sholihin, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati.

Menurut Khabib, QRIS bukan lagi sekadar alat transaksi biasa, melainkan bagian dari transformasi UMKM menuju ekosistem ekonomi digital yang lebih modern dan kompetitif. Kehadiran sistem ini memberikan kemudahan bagi masyarakat yang kini semakin mengutamakan kecepatan dan keamanan.

“Hal ini menjadi semakin relevan karena generasi muda, khususnya Generasi Z, kini menjadi salah satu pasar potensial yang memiliki kecenderungan tinggi terhadap transaksi digital. Mereka lebih memilih layanan yang praktis, cepat, dan terintegrasi secara digital,” ungkap Khabib kepada Wartaphoto.net.

Ia menambahkan, UMKM yang mampu beradaptasi dengan sistem pembayaran digital seperti QRIS akan memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar. Bukan hanya di tingkat lokal dan nasional, melainkan juga dalam menjangkau pasar yang lebih luas di era ekonomi digital saat ini.

Bagi Evan, kehadiran QRIS dan BRImo adalah motor penggerak baru bagi Saung Kendi. Bisnis kopinya yang berakar dari tradisi, filosofi Jawa, dan kehangatan keluarga ini kini melangkah mantap di era digital.

“Saya jadi punya pemahaman baru bahwa mengendalikan diri, kendalining diri, juga berarti bijak dan cerdas dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tandas dia.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close