16
September
2026
Rabu - : WIB

Legenda Kuliner Juwana: Berawal dari Lorong Desa, Serabi Bu Harwati Kini Jadi Buruan Lintas Kota

wartaphoto
2026/06/08 pada Berita, Juwana, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. JUWANA – Berawal dari lorong sempit di Desa Dukutalit hingga kini menetap di lapak semi permanen pinggir Jalan Raya Juwana-Tayu, Harwati telah lebih dari 25 tahun setia melestarikan kuliner tradisional serabi Jawa. Kehangatan serabi legendaris ini terbukti tak pernah pudar, selalu membuat warga rela mengantre setiap sore.

​Bagi masyarakat Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, lapak sederhana Harwati sangat mudah dikenali. Bangunan semi permanennya berdiri tepat di pinggir jalan raya. Cukup mencari gerobak dengan kepulan asap khas pembakaran tungku, pembeli dipastikan sudah berada di tempat yang benar.

​Perjalanan usaha ini dimulai dari sang ibu yang dulunya berjualan di area dalam lorong Desa Dukutalit. Melihat kondisi jualan yang kurang strategis, Harwati muda saat itu memberanikan diri untuk memberikan saran dan mengambil langkah besar.

​”Dulu ibu jualan di dalam lorong. Terus saya bilang, kalau saya yang mau meneruskan berjualan, lebih baik di pinggir jalan raya saja. Karena pasti lebih ramai dan insyaallah pelanggannya banyak,” kenang Harwati saat ditemui Wartaphoto, Minggu (7/6/2026).

​Saran tersebut ternyata menjadi titik balik yang mengubah nasib. Lebih dari seperempat abad berlalu, insting Harwati terbukti jitu. Setelah sempat berpindah-pindah tempat dan mengalami pasang surut, kini ia mantap menetap di lapak pinggir jalur jalan tersebut.

​Kini, ditemani sang suami, Tamrin yang berasal dari Banyuwangi, Harwati siap melayani para pembeli yang datang.

​Serabi Jawa buatan Harwati disajikan per pasang dengan tiga varian rasa dan topping yang bisa dipilih sesuai selera. Di antaranya original (putih) Rp3.000, gula merah Rp3.500, dan cokelat (meses/susu/campur) Rp4.000.

​Lapak serabi ini buka setiap hari mulai pukul 14.30 WIB hingga adonan habis. Harwati mengaku tidak menetapkan hari libur khusus untuk usahanya.

​”Liburnya tidak menentu, kalau pas sedang lelah sekali atau memang sedang ada urusan keluarga saja baru tutup,” ujarnya ramah sembari cekatan menuang adonan.

​Saat ditanya mengenai omzet harian, Harwati mengaku tidak pernah menghitung secara pasti jumlah porsi serabi yang terjual setiap harinya. Ia lebih sering mengukur kelarisan usahanya dari menghabiskan bahan baku adonan.

​”Kalau situasinya ramai, bisa menghabiskan 4 sampai 5 kilogram adonan. Tapi kalau sedang landai atau sepi, biasanya habis sekitar 2,5 sampai 3 kilogram,” jelasnya.

​Kelezatan serabi Harwati rupanya sudah terdengar luas. Pelanggannya kini tidak hanya datang dari seputaran wilayah Juwana saja. Banyak pembeli yang sengaja datang jauh-jauh dari Pati Kota, Tayu, bahkan hingga Kabupaten Rembang demi menikmati sepiring serabi hangat legendaris ini.

​Perjalanan panjang dari lorong desa yang sepi menuju ramainya pinggir jalur Juwana-Tayu menjadi bukti nyata. Konsistensi dan keberanian Harwati selama 25 tahun telah membuahkan manisnya rezeki yang terus mengalir hingga hari ini.

Reporter: Arton
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close