16
September
2026
Rabu - : WIB

Istri Relakan Cincin Kawin untuk Modal Usaha, Aris Sukses jadi Juragan WiFi di Pati

wartaphoto
Pemilik layanan internet rumahan, Aris Mahfud, tengah membenahi perangkat jaringan nirkabel di atas tiang di kawasan Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Pati. (Foto: Angga Saputra/WP)

WARTAPHOTO.NET. PATI – Bagi banyak orang, cincin kawin bukan sekadar lingkaran logam mulia, melainkan simbol ikatan sakral dan janji suci sehidup semati. Demikian pula yang dipahami oleh Aris Mahfud dan Anis Nurcahyani, pasangan suami istri di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.

Namun demikian, pada suatu hari di tahun 2017, Aris Mahfud dan istrinya harus berhadapan dengan pilihan paling berat dalam hidup mereka. Demi menyambung napas impian bisnis jaringan internet yang nyaris gulung tikar karena keterbatasan modal, mereka harus merelakan bukan hanya cincin kawin, melainkan juga seluruh perhiasan pernikahan, termasuk kalung dan gelang.

Di toko emas, sambil menatap getir perhiasan yang berganti rupa menjadi lembaran uang, Aris memantapkan niatnya untuk terus maju. Saat itu, isi dompetnya memang teramat mepet, sementara ia baru memulai usaha kecil: menjual koin voucher WiFi prabayar. Dia menjual koin seharga dua ribu rupiah yang bisa ditukar dengan akses internet nirkabel selama dua jam di teras rumahnya.

Kala itu, demi menyambung hidup sekaligus memperdalam ilmu, pemuda kelahiran 1992 ini juga bekerja ikut orang lain sebagai teknisi mitra WiFi.

“Saat itu modal memang sangat kurang. Akhirnya saya dan istri nekat menjual perhiasan seperti kalung, gelang, sampai cincin kawin mahar kami. Waktu itu laku total Rp7 juta dan semuanya saya pakai buat beli alat jaringan,” kenang Aris saat menceritakan masa-masa sulitnya kepada Wartaphoto, Kamis (18/6/2026).

Berbekal modal uang Rp7 juta dari hasil pengorbanan sang istri yang merelakan perhiasannya dilego, Aris akhirnya memberanikan diri melepaskan status sebagai pekerja dan berdiri di atas kaki sendiri pada tahun 2019. Namun, badai tantangan kembali datang menerpa seiring ketatnya persaingan bisnis internet di perdesaan. Aris menyadari ia tidak akan bisa bertahan jika hanya mengandalkan infrastruktur seadanya.

Dia pun mengambil langkah besar untuk menaikkan kelas bisnisnya, dari WiFi koin di teras rumah menjadi penyedia layanan internet untuk rumah-rumah warga di desanya.

Sayangnya, langkah pertamanya untuk mengetuk pintu bank demi mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) justru berbuah penolakan pahit. Aris mengungkapkan bahwa kegagalan itu terjadi karena ketidaktahuannya di masa lalu yang sempat tergiur menggunakan layanan pinjaman online (pinjol) untuk menutupi kekurangan biaya operasional. Akibat memiliki riwayat pinjol, skor kreditnya menjadi buruk di mata bank. Belajar dari kesalahan berharga tersebut, ia segera melunasi seluruh kewajiban pinjamannya dan berkomitmen penuh untuk tidak pernah lagi menyentuh pinjol.

Setelah urusannya bersih dari lingkaran pinjol, pintu permodalan KUR yang dinanti akhirnya terbuka lebar. Kebijakan dari pemerintah inilah yang kemudian menjadi bahan bakar utama bagi laju bisnis internet milik Aris. Ia melakukan ekspansi secara bertahap dan terukur, dimulai pada tahun 2020 dengan mengambil KUR dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp20 juta yang berhasil dilunasinya hanya dalam waktu satu tahun.

Puas dengan performa usahanya, Aris kembali mengambil pinjaman KUR BRI tahap kedua sebesar Rp50 juta untuk peningkatan jaringan. Di sinilah ia meluncurkan strategi pemasaran yang agresif sekaligus berani demi memikat hati warga, yaitu membebaskan biaya instalasi WiFi bagi pelanggan baru.

“Persaingan di desa sekarang ketat, jadi saya harus memutar otak bagaimana caranya bisa mengikuti persaingan. Akhirnya setelah dapat KUR yang kedua, uangnya saya pakai untuk upgrade jaringan sekaligus buat promo. Biaya instalasi saya gratiskan, jadi pelanggan hanya menanggung biaya bulanan saja,” jelas Aris mengenai strategi bisnisnya.

Strategi tersebut rupanya sukses besar, hingga membuat permintaan pemasangan internet baru terus mengalir deras. Pada tahun 2024, Aris kembali mengambil langkah besar dengan mencairkan KUR BRI senilai Rp100 juta yang seluruhnya digelontorkan untuk pengembangan infrastruktur secara masif. Berkat keberaniannya itu, bisnis jaringannya berkembang pesat hingga kini berhasil menjaring sekitar 360 pelanggan yang tersebar di tiga perdukuhan di Desa Soneyan, bahkan meluas hingga ke desa sekitarnya.

Aris menyebutkan bahwa tarif paket internet yang ditawarkannya kini berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan, tergantung pada paket kecepatan yang diambil oleh pelanggan. Keberhasilan membesarkan bisnis internet ini pun mengubah taraf hidup keluarganya menjadi jauh lebih baik.

Alhamdulillah, hasil dari bisnis ini sekarang bisa dipakai untuk sewa tanah perkebunan, merenovasi rumah, dan yang paling penting bisa menyekolahkan anak di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen,” ucap Aris penuh rasa syukur.

Meski kini telah sukses menjadi “juragan WiFi” di desanya, Aris tidak lupa untuk tetap berbagi. Sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang mengalir, ia menyisihkan kapasitas jaringannya untuk aksi sosial dengan menyediakan layanan WiFi gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun untuk masjid dan musala di sekitar wilayah operasionalnya. Langkah ini diambil dengan harapan agar tempat ibadah juga bisa memanfaatkan teknologi internet untuk kegiatan keagamaan serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Kisah perjuangan Aris dari bawah ini menjadi bukti nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat desa menjadi motor utama yang menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Pati.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Memberikan Keterangan kepada Wartaphoto di Ruang Kerjanya. (Foto: Angga Saputra/WP)

Hal ini ditegaskan oleh Ahmad Muflihin Taiyeb, Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang. Menurutnya, kehadiran program KUR merupakan wujud nyata komitmen BRI dalam menyokong simpul-simpul ekonomi perdesaan.

Pria yang menakhodai wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini menambahkan bahwa BRI telah mendampingi masyarakat Pati selama berpuluh-puluh tahun dan menyaksikan sendiri bagaimana para pengusaha lokal di Pati merintis bisnis mereka dari bawah.

“BRI menyaksikan bagaimana para pengusaha lokal di Pati merintis bisnis mereka dari bawah, dari wilayah desa. Di situlah BRI hadir memberikan penguatan melalui para Mantri (petugas lapangan),” kata dia.

Langkah perbankan dalam menggandeng pelaku usaha ini juga dinilai sangat tepat oleh kalangan akademisi. Khabib Sholihin, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, menyebutkan bahwa UMKM adalah pilar krusial bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Jika sektor ini tumbuh sehat, perputaran uang di masyarakat pun akan semakin solid.

Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa kendala klasik berupa keterbatasan modal masih sering menjegal langkah para pelaku UMKM untuk naik kelas. Banyak dari mereka yang memiliki produk unggulan, namun terbentur dinding pembiayaan saat ingin memperluas pasar.

“Oleh karena itu, program pembiayaan seperti KUR serta fasilitas kredit perbankan lainnya, termasuk yang disalurkan oleh BRI, menjadi solusi strategis yang sangat dibutuhkan untuk mendongkrak kapasitas UMKM tanah air,” jelas Khabib saat diwawancarai Wartaphoto.

Dalam konteks ini, pemanfaatan fasilitas KUR untuk mendongkrak kapasitas usaha telah dibuktikan oleh Aris Mahfud. Melalui kerja keras, keikhlasan seorang istri yang merelakan mahar pernikahannya, serta pemanfaatan akses modal yang tepat, Aris telah membuktikan bahwa keterbatasan di masa lalu bukanlah penentu masa depan.

Dari sepetak teras rumah dan pengorbanan berat, pemuda Soneyan ini kini tidak hanya sukses mengubah nasib keluarganya, tetapi juga berhasil membuka gerbang digitalisasi yang menerangi desanya menuju masa depan.

Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close