
WARTAPHOTO.NET. PATI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap ancaman penyakit leptospirosis.
Penyakit yang ditularkan melalui urine tikus ini mencatatkan lonjakan kasus yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Dinkes Pati, tren kenaikan kasusnya terbilang mengkhawatirkan:
Tercatat pada tahun 2022 muncul 28 kasus, kemudian disusul pada tahun 2023 ada37 kasus, tahun 2024 sebanyak 22 kasus, pada tahun 2025 ada 61 kasus (dengan 17 kasus kematian) terakhir pada Januari – Mei 2026 melambung tinggi hingga 172 kasus dengan 21 kematian.
“Kasus biasanya melonjak saat musim penghujan. Kelompok paling rentan di Pati adalah petani, nelayan, dan pekerja tambak karena sering bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus,” ujar Katim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Pati, Yanti, Rabu (24/6/2026).
Masyarakat diimbau untuk waspadai gejala khas dan penularannya, bakteri leptospira masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka yang terkena air atau tanah terkontaminasi, serta makanan atau kaleng minuman yang terpapar urine tikus.
Yanti memaparkan, selain demam, mual, dan gejala mirip flu, ada gejala khas leptospirosis yang harus diwaspadai:
1. Nyeri atau kaku pada otot betis.
2. Mata berwarna merah atau kekuningan.
3. Penurunan produksi urine (tanda gangguan ginjal pada fase berat).
Dinkes Pati kini gencar melakukan sosialisasi dan penguatan deteksi dini di tingkat puskesmas agar pasien bisa segera ditangani. Yanti menegaskan bahwa kematian akibat penyakit ini sebenarnya bisa dicegah jika diobati sejak dini.
Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot saat bekerja di sawah atau tambak, menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.