
WARTAPHOTO.NET. PATI – Ada banyak cara untuk mensyukuri pertambahan usia, salah satunya seperti yang dilakukan pemilik Jenk Any Salon.
Bukannya menggelar pesta mewah, Nur Handayani atau yang akrab disapa Jenk Any memilih untuk berbagi kebahagiaan bersama puluhan anak yatim piatu dalam sebuah kegiatan yang dikemas secara edukatif dan religius.
Kegiatan rutin tahunan ini digelar bertepatan dengan momen ulang tahun Jenk Any sekaligus “ngalap berkah” (mengharap keberkahan) bulan Suro. Tahun ini, sebanyak 28 anak yatim piatu diajak untuk mengikuti serangkaian agenda mulai dari ziarah, wisata bahari, makan bersama, hingga pemberian santunan tunai, Minggu (5/7/2026).
Anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan ini berasal dari beberapa wilayah di sekitar lokasi usaha Jenk Any, di antaranya dari lingkungan Salon Kedungsari Tayu (tempat tinggal saat ini) dan wilayah Grogolan Dukuhseti (tempat tinggal pertama). Ke depan, ia juga berharap bisa merangkul anak-anak yatim dari daerah Ngagel, tempat cabang usahanya yang baru.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan berziarah ke makam ulama besar, di antaranya makam Syekh Ahmad Mutamakkin di Kajen Margoyoso dan Ki Ageng Kiringan (Syekh Abdullah Asyiq) Pundenrejo Tayu.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Mandalika. Di Pulau Mandalika, anak-anak tidak hanya diajak berwisata dan mengenal sejarah lokal terkait makam tiga tokoh yang ada di sana, tetapi juga merasakan pengalaman baru yang sangat berkesan, yaitu naik perahu.
“Bagi anak-anak, ini pengalaman pertama mereka naik perahu. Awalnya ada yang takut karena ombak lumayan besar, jadi kami angkat satu-satu ke perahu. Sepanjang perjalanan kami tak putus berselawat dan berdoa meminta keselamatan. Alhamdulillah, anak-anak sangat senang dan bahagia,” ujar Jenk Any.
Setelah puas menikmati keindahan pulau, acara dilanjutkan dengan makan bersama dan ditutup dengan tradisi “udi-udian” atau rebutan uang koin dan santunan tunai. Gelak tawa dan rona bahagia terpancar jelas dari wajah anak-anak tersebut.
Bagi Jenk Any, menghibur anak yatim tidak cukup hanya dengan memberikan amplop santunan. Ia ingin memberikan pengalaman emosional yang menyenangkan agar mereka bisa ikut merasakan rekreasi layaknya anak-anak lainnya.
Ia juga berharap aksi sosial ini bisa mengetuk hati masyarakat luas untuk lebih peduli kepada anak yatim, tidak hanya di bulan Suro, melainkan secara rutin setiap bulan.
”Saya percaya doa anak yatim adalah tameng pelindung bagi kita. Rezeki mereka dititipkan melalui kita, jadi sudah kewajiban kita untuk menyampaikannya. Semoga ini bisa menginspirasi teman-teman yang lain untuk ikut menyengkuyung (mendukung) dan membahagiakan anak-anak yatim di sekitar kita,” pungkasnya penuh harap.