
SUKOLILO | WARTAPHOTO.NET – Berawal dari keisengan yang berbuah manis. Muhammad Rafi (21), seorang mahasiswa asal Kabupaten Pati, kini mampu mandiri secara finansial dan membiayai kuliahnya sendiri berkat ketekunannya membuka kedai kopi keliling bernama Kopikang.
Menariknya, Rafi memanfaatkan kawasan Embung Kasih yang berada di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, sebagai spot andalannya untuk berjualan sekaligus menyediakan ruang nongkrong estetik bagi warga lokal.
Rafi menceritakan bahwa usahanya ini tidak langsung berjalan mulus. Pada awal merintis di tahun 2024, ia sempat membuka lapak di Jalan Panglima Sudirman Kota Pati. Namun karena perkembangannya dinilai lambat, ia memutar otak dan melirik potensi tersembunyi di desanya.
“Awalnya buka di Jalan Sudirman, ternyata kurang. Akhirnya coba pindah ke sini. Saya izin dulu sama petugas yang berjaga dan diperbolehkan, yang penting menjaga kebersihan,” ujar Rafi saat ditemui di lapaknya, Selasa (14/7/2026).
Nama Kopikang sendiri lahir dari cerita unik yang akrab. Rafi mengaku nama tersebut diambil dari celetukan teman-temannya yang sering memanggilnya dengan sebutan ‘Kang’.
”Dulu pas awal buka yang meramaikan teman-teman sendiri. Mereka kalau pesan sering manggil, ‘Kang… kopi kang’. Dari situ akhirnya keterusan jadi nama brand,” kenangnya sambil tersenyum.
Keputusan Rafi menggelar lapak di Embung Kasih bukan tanpa alasan. Selain dekat dari rumah, ia melihat potensi wisata yang besar meski embung tersebut belum resmi dioperasikan sepenuhnya oleh pemerintah.
”Kalau tidak dimanfaatkan, takutnya malah mangkrak dan tidak terawat. Dulu tempat ini sepi banget, bahkan sempat ada cerita-cerita mistisnya. Sekarang pelan-pelan kita hidupkan suasananya,” jelasnya.
Strategi Rafi terbukti jitu. Kopikang kini menjadi daya tarik tersendiri karena menyuguhkan panorama alam yang memikat. Sembari menyeruput kopi, pengunjung disuguhi lanskap megah Pegunungan Kendeng dan view matahari terbenam (sunset) yang eksotis.
Dari lapak sederhana di tepi embung ini, Rafi mampu menjual sekitar 20 hingga 35 gelas minuman per hari dengan omzet rata-rata Rp100 ribu setiap harinya. Angka yang terbilang cukup untuk menutup biaya operasional kuliahnya.
“Usaha kopi ini menjadi usaha utama saya. Untuk bayar kuliah, termasuk UKT (Uang Kuliah Tunggal) dari hasil jualan kopi ini,” tuturnya.
Bagi Anda yang penasaran, Kopikang buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Khusus untuk akhir pekan, Rafi juga membuka lapaknya di pagi hari mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB demi menyasar warga yang sedang berolahraga atau sekadar menikmati udara segar pedesaan.
Melalui media ini, Rafi berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bisa segera meresmikan dan mengoperasikan Embung Kasih secara optimal sebagai destinasi wisata baru.
”Harapan saya embung ini segera diresmikan. Jika dikelola dengan baik dan diberi ruang untuk pelaku UMKM, tentu dampaknya akan sangat bagus untuk perputaran ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Reporter: Arton
Editor: A. Muhammad