16
September
2026
Rabu - : WIB

Pesona Kopi Lereng Muria: Dari Kedai Sederhana Jepalo Pati Menembus Pasar Internasional Lewat Digitalisasi

wartaphoto
Luqman saat menyajikan kopi pesanan para pelanggan di kedainya. (Foto: Angga/WP)

PATI | WARTAPHOTO.NET — Di tengah maraknya kedai kopi modern di Kabupaten Pati, Folklore Jepalo Coffee menawarkan daya tarik berbeda. Berada di Desa Jepalo, Kecamatan Gunungwungkal, kedai ini memadukan kehangatan seduhan kopi lokal dengan pemandangan persawahan dan Pegunungan Muria.

​Usaha yang dirintis Luqman (33) ini berawal dari langkah sederhana pada 2016. Saat itu, ia hanya menjual kopi lelet lokal berbekal peralatan manual. Semangatnya berlanjut dengan membuka warung kecil pada 2017.

Kegigihan dan kedisiplinan Luqman dalam mengelola usahanya tidak lepas dari latar belakang pribadinya. Pria ini merupakan seorang alumnus salah satu pondok pesantren di kawasan pusat keagamaan Kajen, Pati. Nilai-nilai kemandirian, kesabaran, serta prinsip keberkahan yang ia timba selama mengenyam pendidikan pesantren menjadi fondasi kuat baginya dalam merintis dan mengembangkan bisnis dari nol.

​Inovasi mulai menyentuh lini produksi pada 2018 melalui penggunaan mesin pemanggang (roasting), hingga menghadirkan varian menu berbasis robusta dan arabika seperti espresso, Americano, V60, serta racikan kopi susu rasa karamel, vanila, dan pisang. Kopi seduhan tersebut dibanderol dengan harga ramah kantong, mulai Rp10.000 hingga Rp20.000 per cangkir.

​”Kedai ini saya buat tahun 2017 lalu. Green bean kopinya dari lokal Jepalo sini, dari lereng Pegunungan Muria,” ujar Luqman saat ditemui Wartaphoto, Minggu (30/8/2026).

​Tidak sekadar menyajikan kopi di tempat, Luqman menggarap kualitas cita rasa dari hulu ke hilir. Ia memproduksi roast bean unik beraroma pisang creamy dan berasa pandan melalui metode pertanian organik tumpangsari bersama pohon pisang. Produk eksperimen ini dibanderol Rp120.000 per 200 gram. Sementara itu, roast bean reguler dijual Rp170.000–Rp190.000 per kilogram dan kopi bubuk kemasan Rp150.000 per kilogram.

​”Soal kualitas rasa terjamin, tidak kalah dengan kafe elit di luar sana. Kopinya saya olah sendiri, mulai dari kebun hingga menjadi kopi siap saji,” ungkap Luqman.

​Akselerasi Pasar Lewat Ekosistem Digital
​Pertumbuhan usaha Luqman melonjak saat ia mengadopsi ekosistem digital. Selain memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk pemasaran, ia merambah marketplace Shopee dan menerapkan pembayaran nontunai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sejak 2020.

​Langkah tersebut memperluas jangkauan pasar Jepalo Coffee secara signifikan. Selain memenuhi kebutuhan kedai yang menjual sekitar 200 gelas per bulan, penjualan kopi bubuk dan roast bean kini menembus rata-rata 50 kilogram per bulan. Pasarnya merambah Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Tangerang, hingga ke luar negeri seperti Hong Kong.

​Kemudahan digital ini dirasakan langsung oleh pelanggan. Ulin Nuha (29), warga Kecamatan Tlogowungu yang rutin berkunjung seminggu sekali, mengaku sangat terbantu.

​”Suasananya nyaman di pelosok desa, disuguhkan pemandangan persawahan dan pegunungan. Transaksi pakai QRIS sangat memudahkan. Kalau lagi tidak bisa datang langsung, biasanya tinggal beli lewat Shopee,” tuturnya.

​Transformasi digital Jepalo Coffee sejalan dengan program Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pati. Kepala Bidang UMKM, Hendry Kristyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya gencar menggelar pelatihan digital marketing serta berkolaborasi dengan lembaga perbankan untuk fasilitasi QRIS bagi pelaku usaha demi meningkatkan efisiensi dan meminimalkan peredaran uang palsu.

​”Sekarang pelaku UMKM sudah semakin paham teknologi. Mereka memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk secara luas sekaligus mempermudah transaksi pembayaran,” ujar Hendry saat dihubungi Wartaphoto.

​Sementara itu, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Khabib Sholihin, menilai digitalisasi keuangan dan pemasaran sebagai faktor krusial dalam mendongkrak daya saing UMKM.

​”QRIS bukan lagi sekadar alat transaksi biasa, melainkan bagian dari transformasi UMKM menuju ekosistem ekonomi digital yang lebih modern dan kompetitif. Sistem ini memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mengutamakan kecepatan dan keamanan,” terang Khabib.

​Ia menambahkan, integrasi pembayaran digital dan marketplace merupakan strategi tepat untuk menggaet Generasi Z yang mengutamakan kepraktisan. UMKM yang adaptif terhadap teknologi memiliki peluang lebih besar untuk memperluas cakupan pasar dari skala lokal hingga internasional.

​Kisah Luqman bersama Jepalo Coffee menjadi bukti bahwa keterbatasan lokasi geografis bukan lagi penghalang bisnis. Melalui konsistensi kualitas produk dan keberanian mengadopsi teknologi, ia sukses mengubah warung sederhana di lereng Muria menjadi usaha berskala internasional.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close