
WARTAPHOTO.NET. SOSOK – Sukses akademis, sukses organisasi. Itulah misi Elsa Inayatul Amalia (24) saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Menurut dia, menjadi mahasiswa yang ideal adalah ketika mampu menyeimbangkan antara belajar akademik di kelas, tanpa mengesampingkan berproses di organisasi. Elsa ingin mematahkan asumsi bahwa menjadi aktivis kampus pasti keteteran akademiknya.
“Organisasi nggak mengganggu kuliah, karena motivasiku dulu berorganisasi juga harus balance di akademis. Banyak orang menganggap bahwa organisasi itu menjadi momok yang membuat akademis tersingkirkan. Menurut mereka (yang beransumsi), menjadi aktivis akademisnya bakal jelek, nah di situ aku ingin membantah itu, nyatanya aku bisa jadi ketua BEM di fakultas dan lulus kuliah dengan IPK 3.9. Bahkan saya juga menerima beasiswa Bank Indonesia pada 2021 silam,” kata Elsa kepada Wartaphoto, (26/5/2024).
Wanita asal Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini memang suka berorganisasi. Baik di intra maupun ekstra kampus.
Dia pernah menjadi ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, menjadi Koordinator Divisi Minat dan Bakat Generasi Baru Indonesia (GenBI) UIN Walisongo, hingga menjadi Ketua 3 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah.
Saat ini dirinya juga menjabat sebagai Koordinator Kaderisasi Kopri Cabang PMII Kota Semarang.
“Mulai MA (Madrasah Aliyah) aku memang suka berorganisasi. Dulu pernah menjadi ketua PAC IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) Kecamatan Tayu dan menjadi pengurus cabang IPNU/IPPNU Pati,” ungkap alumnus MA Miftahul Huda Tayu ini.
Menurut Elsa, banyak hal positif yang didapat ketika berproses di organisasi. Mulai dari relasi hingga pengetahuan baru.
“Yang didapat ketika berorganisasi banyak banget. Karena ini rumah keduaku setelah pendidikan sekolah/kuliah. Banyak hal yang aku dapatin, pertama relasi, teman baru, ilmu, dan knowledge (pengetahuan). Ketika kita bertemu orang baru tentunya dapat ilmu baru,” jelas dia.
Elsa juga mengaku suka dengan public speaking. Ia belajar mengasah kemampuan berbicara di depan khalayak ketika berproses di organisasi.
“Sebenarnya bakat aku di ngomong, tapi waktu itu ngomongnya nggak terarah, cuma cerewet aja. Terus di organisasi pas MA aku jadi suka public speaking dan aku baru sadar ternyata passionku di situ,” terang dia.
Berkat keterampilannya berbicara di depan umum, kini alumnus Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Semarang ini sering ditunjuk menjadi Master of Ceremony (MC) di acara-acara tertentu.
“Sebenarnya kalau hobi MC bermula di organisasi. Saat itu ditunjuk sebagai MC dalam kegiatan kecil-kecil, dari situ mulai terbiasa jadi MC. Nah aku yang awalnya cerewet suka ngomong, pas berorganisasi akhirnya keterusan. Akhirnya sekarang malah jadi salah satu pekerjaan freelance,” tutur Elsa.
Dari beberapa kali tampil menjadi pembawa acara, Elsa mengaku banyak mendapatkan pengalaman. Sebab, ketika menjadi MC, ia harus mampu membaca situasi dan karakteristik peserta.
“Semua acara berkesan, karena bisa bertemu orang baru, bertemu dengan client baru, dengan even dan audiens baru. Tapi yang paling membuat aku terkesan malah bukan waktu jadi MC, tapi waktu aku jadi moderator di sebuah acara dengan pembicara Rocky Gerung, karena aku bisa belajar banyak dari beliau yang merupakan seorang komentator politik, filsuf, akademikus, dan intelektual publik Indonesia,” tandas wanita yang aktif di salah satu Wedding Organizer (WO) di Semarang ini.
Penulis : Putra
Editor : Revan Zaen
Foto : Dok. Pribadi