16
September
2026
Rabu - : WIB

Melihat Tradisi Kenduruan di Punden Nyai Ageng Kenduruan Tajungsari Tlogowungu

wartaphoto
2024/11/29 pada Berita, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Ratusan warga Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, berkumpul di Punden Nyai Ageng Kenduruan, Kamis (27/11/2024).

Punden yang berada di lereng Pegunungan Muria itu berjarak sekitar 15 kilometer dari Desa Ngurenrejo. Tepatnya, terletak di Desa Tajungsari, Kecamatan Tlogowungu, Pati.

Ratusan warga Ngurenrejo itu berkumpul untuk menggelar “Kenduruan”, sebuah tradisi dalam menyambut musim tanam. Di sana, para warga menggelar doa bersama.

Mereka juga membawa ambengan berisi aneka makanan untuk dimakan bersama usai tradisi dilaksanakan.

Sekretaris Desa Ngurenrejo, Sutrisno (57) mengatakan, Kenduruan adalah sebuah tradisi napak tilas dalam rangka menyambut musim tanam.

“Pada zaman dahulu kala, Ki Ageng Singopadu, sesepuh Desa Nguren, berjalan kaki menuju wilayah Tajungsari, Tlogowungu, untuk mengunjungi kakak perempuannya yang bernama Nyai Ageng Kenduruan. Dalam kunjungannya, Ki Ageng Singopadu membawa makanan untuk Nyai Ageng Kenduruan berupa nasi beserta lauk pepes udang untuk dinikmati bersama,” kata dia.

Tambak Tiris yang berada dekat dengan Punden Nyai Ageng Kenduruan

Setelah itu, lanjut Sutrisno, Ki Ageng Singopadu meminta izin menggunakan air sungai yang berada di wilayah saudaranya tersebut untuk irigasi lahan pertanian di Desa Ngurenrejo karena musim tanam telah tiba. Akan tetapi, saat itu air sungai tidak bisa mengalir dengan lancar karena terhalang oleh sebuah batu besar.

“Konon dengan kesaktiannya, Ki Ageng Singopadu menginjak batu besar tersebut hingga pecah dan terbelah menjadi dua seperti teriris. Seketika air sungai mengalir melewati tengah-tengah dua batu yang terbelah tersebut. Tempat batu pecah tersebut bernama ‘Tambak Tiris’, lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari Punden Nyai Ageng Kenduruan,” tutur dia.

Ia manambahkan, Tambak Tiris juga menjadi tujuan napak tilas setelah acara doa dan makan bersama di Punden Nyai Ageng Kenduruan. Namun, hanya kepala desa beserta perangkat yang melakukan napak tilas di tempat tersebut.

Kepala Desa Ngurenrejo, Kasnawi (49) menambahkan, tradisi Kenduruan harus tetap dilaksanakan dan tidak boleh dihilangkan. Sebab, tradisi itu sebagai pengingat jasa leluhur mereka.

“Kenduruan adalah tradisi baik sebagai sarana untuk mengigat jasa leluhur dan mempererat kerukunan antarmasyarakat,” ucap dia.

Reporter : Ragil
Editor : Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close