
WARTAPHOTO.NET. PATI – Desa Sampok, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, adalah tempat yang paling cocok untuk berburu buah durian. Pasalnya, beragam jenis durian tumbuh sumbur di desa tersebut. Mulai jenis bawor, musang king hingga duri hitam.
Ada beberapa kebun yang bisa menjadi jujugan ketika berkunjung ke desa itu. Salah satunya Har Farm. Di kebun ini, pengunjung tidak hanya bisa menyantap durian saja, tapi juga bisa melihat langsung kebunnya.
Salah satu pengunjung sekaligus pembeli di Har Farm, Syafiq Dausat Wardani, mengatakan bahwa dirinya sering berburu durian di tempat tersebut. Sebab menurut dia, Durian di Desa Sampok memiliki rasa yang lebih nikmat dibandingkan tempat lain.
“Di sini kualitas buahnya lebih bagus ketimbang yang lain. Kemarin saya beli yang bawor itu rasanya manis, lengket, ada pahit-pahitnya,” kata dia, (31/12/2024).
Pemilik Har Farm, Hariko menuturkan, dirinya mulai membuka kebun durian pada 2012 silam.
“2012 awal saya nanam belum banyak yang minat di kebun durian. Awalnya saya bawa bawor, musang king dan duri hitam,” jelas dia.
Hingga kini, Har Farm memiliki sekitar 250 pohon durian yang tumbuh di lahan seluas 4 hektare. Varian duriannya juga bertambah, ada montong, raja udang, pelangi, matahari hingga super tembaga.
Hariko menjelaskan, ratusan pohon itu pun berbuah ketika musimnya tiba. Yakni pada bulan Desember hingga Januari.
Setiap musim durian seperti ini, puluhan pengunjung mulai berdatangan. Tak hanya dari Pati saja, tapi juga dari luar kota, seperti Rembang, Kudus, hingga Semarang.
Adapun untuk harga durian di Har Farm bervariasi tergantung jenisnya. Untuk jenis bawor dijual Rp 100 ribu per kilogramnya. Kemudian jenis musang king Rp 200 ribu, duri hitam Rp 300 ribu, dan yang paling mahal yaitu super tembaga Rp 400 ribu per kilogramnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sampok, Warsito menyebut, bahwa di desanya ada kurang lebih 50 hektar lahan yang ditanami durian. Baik itu skala kecil maupun luas.
“Besar harapan kita selaku Pemdes, Desa Sampok ini menjadi destinasi wisata khususnya durian. Karena hampir rata-rata dari masyarakat kita yang dulu bertani seperti ketela, jagung dan lainnya sudah berubah ke arah durian,” ucap dia.
Ia pun meyakini desanya menjadi sentral durian di Bumi Mina Tani ini karena berkah alamnya. Terlebih kini sudah ada sekitar 7 kebun yang besar, dengan luasan 4 sampai 7 hektar.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen