
WARTAPHOTO.net. REMBANG – Rembang kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan menggelar forum internasional bertajuk “International Entrepreneur Export: Access Market to Africa”. Acara ini diharapkan menjadi momentum penting bagi pelaku UMKM lokal untuk membuka akses ekspor ke benua Afrika.
Bertempat di Hotel Gajah Mada Rembang, Sabtu, (25/5/2025) forum ini mempertemukan puluhan pelaku usaha dari berbagai sektor dengan Rembang Africa Business Council (RABC).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Forum Komunikasi BUMDes Rembang (FORKOM BUMDESA) dan Sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri turut hadir, memberikan pandangan dan strategi konkret dalam menembus pasar ekspor Afrika.
Hadir dan turut memberikan sambutan dalam forum ini adalah M. Mahfudz (Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Rembang), Zainul Muttaqin, Ketua FORKOM BUMDes Kabupaten Rembang, Mr. Makthar Ndiaye, Konsul Jenderal Kedutaan Besar Republik Kenya, dan Fanty Margaretha, Founder RABC.
Dalam pemaparannya, Zainul Muttaqin menekankan bahwa forum ini bukan sekadar seremoni atau kegiatan sesaat.
“Ini bukan sekadar bazar yang habis acara langsung selesai. Kita harus mampu membaca dan memproyeksikan masa depan produk lokal kita. Forum ini menjadi langkah awal agar UMKM Rembang bisa masuk pasar internasional secara berkelanjutan,” tekadnya.
Pemerintah daerah turut memberikan dukungan terhadap upaya ekspor ini. M. Mahfudz menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya forum yang dinilainya sangat strategis.
“Kami berterima kasih kepada panitia yang telah menyiapkan acara sebagus ini. Semoga kegiatan ini bisa meningkatkan akses dan grade UMKM kita. Harapan saya, pelaku UMKM harus menjaga kualitas produk, tetap semangat, dan manfaatkan peluang ini sebaik mungkin agar kepercayaan pasar internasional terhadap produk Rembang semakin tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Mr. Makthar Ndiaye menyampaikan bahwa pasar Afrika menawarkan peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia. Namun, dibutuhkan mentalitas ekspor dan kesiapan menyeluruh dari pelaku UMKM.
“Kegiatan ini ke depan akan jadi dua arah dan saling menguntungkan. Jangan hanya siapkan produk, tapi juga semangat ekspor. Di Afrika, ada pengusaha yang hanya dalam lima hari pameran bisa langsung mengamankan kontrak 25 kontainer. Ini nyata,” ungkapnya.
Dalam sesi tersebut Makhtar banyak memberikan wawasan tentang pangsa pasar Afrika yang cenderung lebih mudah dimasuki daripada pasar Eropa.
“Kita memang harus siap bersaing secara produk, tetapi ketersediaan bahan dan kemampuan produksi dalam jumlah besar juga harus dipastikan. Selain ekspor produk, pasar Afika juga juga banyak membutuhkan expor skill. Kemampuan teknis juga masih terbuka luas,” imbuh Makhtar Ndiaye.
Trust dan Kolaborasi
Sementara itu, Founder RABC Fanty Margaretha yang telah berpengalaman belasan tahun di pasar ekspor menekankan pentingnya membangun kepercayaan dan kolaborasi dalam menjalankan ekspor. Menurutnya, kepercayaan antara pelaku usaha dan pembeli menjadi fondasi utama dalam transaksi lintas negara.

“Kita akan bantu UMKM Rembang agar go internasional. Tapi harus dibangun trust. Kami akan bantu dari sisi pasar maupun sistem pembayaran agar pelaku usaha dan buyer bisa saling percaya. Kerja sama dan gotong royong adalah kunci,” jelasnya.
Forum ini juga menghadirkan sesi interaktif yang dimanfaatkan oleh para pelaku UMKM untuk berdiskusi langsung dengan narasumber. Salah satunya adalah Edi Wiryanto, pelaku usaha kopi dan minyak sawit, yang menanyakan skema pembayaran dan spesifikasi produk ekspor.
“Kami memiliki produk sawit, nah terkait pembayarannya bagaimana, bisa FOB atau bagaimana? Dan kebutuhannya CP berapa?” tanya Edi.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Mr. Makthar menjelaskan bahwa kebutuhan Certificate of Product (CP) berada di kisaran 8–10. Ia juga menyarankan agar menggunakan skema pembayaran FOB (Free on Board) dengan pelunasan saat pengiriman barang.
Forum ini menjadi tonggak awal penting dalam upaya memperluas pasar ekspor bagi UMKM Rembang. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga fasilitator, hingga mitra internasional, menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global.
Di akhir sesi, Makhtar Ndiaye mendatangi satu persatu produk UMKM yang dibawa seperti tas eceng gondok, madu alami, kopi lelet, batik lasem, sepatu dan baju dari ecoprint, sambal, tas handmade, aneka snack olahan, hingga kuningan dari Juwana yang turut hadir.
Reporter: Arton
Editor: Revan Zaen