16
September
2026
Rabu - : WIB

Ternyata ada Makna Filosofis Mendalam dari Hitungan Jawa Sewelas Selikur Selawe Seket dan Sewidak

wartaphoto net
2025/06/16 pada Lifestyle, Budaya, Jateng

WARTAPHOTO.net. PATI. Budaya Jawa memang dikenal penuh filosofi. Tak terkecuali dalam penyebutan angka, dimana ada angka-angka tertentu memiliki penyebutan berbeda.

Lazimnya angka 1-10 disebut sebagai angka siji, loro, telu, papat, limo, enem, pitu, wolu, songo, sepuluh. Namun pola ini berganti ketika angka 11, 21, 25, 50, 60.  Secara berurutan, angka tersebut dibaca, sewelas, selikur, selawe, seket, sewidak.

Dalam budaya jawa angka bukan saja hanya hitung-hitungan tetapi ada dalam istilah cakra manggilingan.

Cakra Manggilingan adalah sebuah konsep filosofi Jawa yang menggambarkan siklus kehidupan yang terus berputar, seperti roda yang berputar.  Istilah ini berasal dari dua kata: “cakra” yang berarti roda atau cakram, dan “manggilingan” yang berarti berputar. Secara keseluruhan, Cakra Manggilingan melambangkan perputaran zaman dan dinamika kehidupan manusia, termasuk perubahan nasib dan keadaan.

Masyarakat Jawa ternyata punya cara mudah untuk membaca siklus hidup. Masyarakat jawa percaya bahwa kabeh ana wayahe dewe-dewe (semua ada masanya sendiri-sendiri). Kapan usia yang tepat untuk menikah, mengejar karir, hingga kapan harus fokus beribadah.

Metode unik yang digunakan orang Jawa adalah dengan membedah kreta basa (asal kata) dari angka-angka yang mereka kenal. Satuan angka tersebut nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk hidup sesuai wayahan (momentum atau siklus).

Mengutip jurnal Etnomatematika dalam Budaya Masyarakat Yogyakarta, berikut filosofi penyebutan angka 11, 21, 25, 50, dan 60.

Filosofi Penyebutan Angka dalam Bahasa Jawa

11 Sewelas (Duwe Rasa Welas)

Pada usia 11 sampai 19 tahun, dalam memasuki masa remaja akan memiliki rasa welas asih atau kasih sayang. Rasa welas asih ini umumnya muncul terhadap lawan jenis.

21 Selikur (Seneng Lingguh Kursi)

Usia ini merupakan awal pendewasaan manusia dalam memasuki dunia kerja. Makna dari ‘suka duduk di kursi’ memiliki penggambaran fase pekerjaan manusia memasuki usia 21 tahun.

25 Selawe (Senenge Lanang lan Wedok)

Fase kasmaran manusia mulai beranjak ke jenjang serius ketika berusia 25 tahun. Pada tahap ini, lelaki ataupun perempuan memiliki usia ideal untuk melangsungkan pernikahan atau berumah tangga.

50 Seket (Seneng Kethunan)

Kata kethu memiliki arti peci atau penutup kepala yang digunakan ketika melaksanakan ibadah. Di usia ini manusia memasuki fase mendekatkan diri kepada Tuhan dengan memperbanyak ibadah.

60 Sewidak (Sejatine Wis Wayahe Tindak)

Artinya adalah ‘sudah waktunya pergi’. Pada usia 60 tahun ke atas, fisik manusia sudah mengalami penurunan dan keterbatasan. Manusia hanya menunggu waktu untuk dipanggil Sang Pencipta.

 

 

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close