
WARTAPHOTO.NET. PATI – Tak hanya berfungsi sebagai penahan ombak dan pencegah abrasi, tumbuhan mangrove jenis api-api (Avicennia) ternyata memiliki manfaat lain. Di tangan warga pesisir Dukuhseti, Pati, biji mangrove ini disulap menjadi kudapan unik yang juga dipercaya kaya akan antibakteri.
Warga setempat lazim menyebut biji tanaman mangrove ini dengan nama Brayo.
Untuk mengubah brayo menjadi kudapan siap santap, diperlukan proses yang cukup panjang guna menghilangkan rasa pahit dan getahnya.
Tahapannya dimulai dari pengupasan kulit, perendaman selama 2 hingga 3 hari, hingga proses perebusan. Setelah direbus pun, brayo harus direndam kembali selama beberapa jam untuk memastikan sisa rasa pahitnya hilang.
Sumiyati, seorang petani tambak di Desa Kenanti, Dukuhseti, rutin memanfaatkan biji mangrove di sekitar tambaknya untuk dijadikan teman ngopi di pagi hari.
”Di pematang tambak banyak sekali tanaman mangrove, bijinya saya ambil untuk camilan. Kebetulan saat ini sedang musimnya,” ungkap Sumiyati, Jumat (6/2/2026).
Cara penyajian brayo sangat sederhana namun menggugah selera. Buah yang telah matang disajikan dengan taburan parutan kelapa dan sedikit garam dapur.
”Khasnya memang ada sedikit rasa pahit yang tertinggal, tapi berpadu dengan gurihnya kelapa dan garam, rasanya jadi sangat lezat,” tambahnya.
Selain unik, brayo ternyata memiliki nilai gizi yang tidak main-main. Melansir data dari Biodiversity Warriors, biji Avicennia berpotensi besar sebagai bahan pangan alternatif dan obat-obatan.
Berdasarkan hasil analisis, biji mangrove api-api mengandung protein 10,8 persen dan karbohidrat 21,4 persen.
Kandungan ini menjadikan brayo bukan sekadar camilan tradisional, tetapi juga sumber nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat pesisir.
Reporter : Dimas
Editor : Revan Zaen.