16
September
2026
Rabu - : WIB

Potret Hardiknas di Pati: Cerita Yheni, Guru Honorer Bergaji Rp345 Ribu yang Nyambi Melatih Nari

wartaphoto
2026/05/03 pada Berita, Pati, Pendidikan, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya menjadi ajang refleksi bagi pemerintah untuk menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan bangsa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak tenaga pendidik yang nasibnya terkatung-katung akibat kebijakan yang belum memihak.

​Salah satu potret perjuangan tersebut datang dari Yheni Aprilia Susanti, seorang guru honorer di Kabupaten Pati. Di tengah kewajibannya mencerdaskan tunas bangsa, ia harus bertahan hidup dengan honor pas-pasan, yakni Rp345.000 per bulan.

​”Saat ini status saya masih GTT (Guru Tidak Tetap) atau honorer sejak tahun 2024 lalu. Gaji per bulan Rp345.000,” ungkap Yheni, guru seni di SMP Negeri 1 Tambakromo saat diwawancarai, Sabtu (2/5/2026).

​Wanita berusia 26 tahun asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus ini mengaku pendapatan dari mengajar bahkan tidak cukup untuk menutup biaya transportasi harian. Kondisi ini memaksanya untuk memutar otak dan mencari penghasilan tambahan melalui keahlian seni yang dimilikinya.

​”Kalau boleh jujur, untuk bensin saja tidak menutup. Tapi tetap saya jalani. Sebagai sampingan, saya mendirikan sanggar seni untuk melatih tari. Jika ada panggilan dari sekolah atau instansi lain, saya juga melatih di sana,” tutur dia.

​Yheni mengelola Sanggar Prigel Bromastro yang kini telah memiliki 50 murid. Setiap hari Minggu, ia mengajarkan teknik menari tradisional hingga modern dengan menekankan unsur wiraga, wirama, dan wirasa. Meski tarif per pertemuan hanya dipatok Rp5.000, sanggar ini menjadi salah satu penopang ekonominya.

​Tak hanya itu, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini juga aktif sebagai pesinden dalam gelaran campursari hingga menjadi cucuk lampah. Bakat ini rupanya telah ia asah sejak duduk di bangku SMP.

​”Jika ada job menyinden di malam hari atau menjadi cucuk lampah pada siang hari, saya izin dengan pihak sekolah atau tukar jam mengajar,” tambah ibu satu anak ini.

​Meski harus bekerja ekstra keras, Yheni tetap memendam mimpi besar untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, langkahnya terbentur minimnya kuota formasi guru seni di Kabupaten Pati, khususnya bagi lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.

​”Harapan saya bisa menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Itu juga menjadi cita-cita ayah saya agar saya bisa bermanfaat sebagai pengajar ASN. Saya berharap tahun ini ada kuota untuk guru seni di Pati bagi lulusan PPG Prajabatan, karena saya tidak bisa masuk melalui jalur Dapodik,” pungkas dia.

Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close