
WARTAPHOTO.NET. PATI – Suara mesin jahit menderu di sebuah rumah di Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Di rumah itu, sejak 2006 pasangan suami istri Sumartono (53) dan Piah (43) menggantungkan asa. Lewat selembar kain, seutas benang, dan jarum, mereka tidak hanya menjahit pakaian, tapi juga merajut masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka.
Memulai usaha butik bukanlah perkara mudah. Sebelum mengenal akses permodalan yang memadai, Piah mengenang betapa terbatasnya kapasitas produksi mereka. Dengan peralatan seadanya, mereka hanya mampu menyelesaikan satu potong baju dalam sehari.
“Kalau keinginan berkembang, ya, pastinya ada. Cuma saat itu selalu terbentur modal,” kenang Piah ketika dijumpai Wartaphoto.net di rumahnya, Jumat (22/5/2026).
Dalam menjalankan usaha, keharmonisan dan pembagian tugas yang apik menjadi kunci utama mereka. Piah menjadi motor utama dalam membuat busana siap pakai para pelanggannya. Sementara Sumartono, berperan di balik layar. Ia bertanggung jawab pada pengelolaan usaha hingga urusan logistik untuk mengantarkan pesanan pakaian yang sudah jadi langsung ke tangan pelanggan.
Pada tahun 2008, usaha mereka menemui titik terang. Pasangan ini memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk pertama kalinya sebesar Rp25 juta.
“Akhirnya dapat modal dan kami gunakan untuk membeli mesin jahit baru yang lebih besar. Dampaknya juga langsung terasa,” ucap dia.

Jika sebelumnya dalam satu hari Piah hanya menghasilkan satu pakaian, dengan adanya mesin baru ini dirinya mampu menyelesaikan dua hingga tiga potong baju per hari.
Seiring kedisiplinan dan perkembangan usaha mereka, kepercayaan bank pun meningkat. Pada 2025 lalu, Piah dan Sumartono dipercaya mengakses modal hingga Rp100 juta.
Kualitas jahitan Piah juga membuat pesanan datang dari berbagai kalangan. Piah tidak hanya melayani pakaian kasual saja, melainkan terampil menuntaskan pesanan yang rumit dan mendetail. Mulai dari baju pengantin, gaun pesta, hingga seragam sekolah.
Sekarang, dalam satu bulan, rata-rata 60 hingga 100 potong baju berhasil diproduksi dari tangan dingin mereka. Dengan ongkos jahit yang dipatok berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per baju, omzet yang didapat menjadi fondasi bagi kesejahteraan keluarga mereka.
Bagi Sumartono dan Piah, kesuksesan finansial tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari keberhasilan mengantarkan anak-anak mereka menggapai cita-cita yang lebih tinggi dari orang tuanya. Jerih payah Piah di depan mesin jahit dan ketekunan Sumartono mengelola usaha butik terbayar lunas ketika melihat putri sulung mereka berhasil menembus salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2025 lalu. Sebuah kebanggaan luar biasa bagi keluarga sederhana dari pesisir Juwana ini.
Tak hanya anak sulung, anak kedua mereka yang kini duduk di bangku SMP Negeri 1 Juwana juga tumbuh berprestasi. Anak laki-laki mereka tidak hanya tekun belajar, tetapi juga berhasil menorehkan prestasi di bidang olahraga sebagai atlet bola tangan (handball) andalan sekolah.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Ditemui Wartaphoto di Ruang Kerjanya
Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa KUR adalah alat BRI untuk membantu masyarakat. Menurutnya, keekonomian Pati sangat didukung oleh pemberdayaan masyarakat desa sehingga BRI berperan aktif di dalamnya.
“BRI membersamai masyarakat Pati berpuluh-puluh tahun. Saya melihat pengusaha-pengusaha Pati yang mulai beranjaknya dari usaha desa,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Pria yang akrab disapa Iin ini menambahkan, BRI sangat aktif di perdesaan. Itu dibuktikan dengan 83 persen portofolio penyaluran kredit ada di sektor rural.
Menurutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pati juga tergolong tinggi jika dibandingkan dengan daerah tetangga lainnya. Yakni mencapai Rp43,05 juta per kapita per tahun.
“Kalau di eks-Karesidenan Pati yang tinggi itu Kudus, kemudian Pati. Jadi untuk pendapatan per kapita yang cukup tinggi ini masih bisa didorong dengan roda bisnis di Pati,” tutur dia.
Adanya penyaluran pembiayaan bagi pelaku UMKM juga menjadi perhatian khusus kalangan akademisi. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Munif Kholifah, menjelaskan bahwa bagi pelaku UMKM, modal dari perbankan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bahan bakar untuk tumbuh dan naik kelas.
“Dengan dukungan finansial yang tepat, pelaku usaha dapat berinovasi tanpa ragu, membuka lapangan kerja baru, dan bertransformasi dari usaha lokal menjadi penggerak utama roda ekonomi nasional,” kata dia saat dihubungi Wartaphoto.
Kisah Sumartono dan Piah di Juwana Pati ini telah membuktikan bahwa keterbatasan modal di awal bukanlah akhir dari cerita. Dengan ketekunan, keberanian mengambil peluang modal, dan fokus pada masa depan keluarga, sepotong demi sepotong baju yang mereka jahit kini telah menjelma menjadi jembatan kesuksesan bagi generasi penerus mereka.
Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen