16
September
2026
Rabu - : WIB

Dompet Tertinggal Bukan Masalah: Cerita Fian Terselamatkan QRIS BRI Saat Cukur Rambut di Wedarijaksa

wartaphoto
Seorang pelanggan di Among Barbershop sedang memindai QRIS BRI untuk melakukan pembayaran usai potong rambut. (Foto: Angga/WP)

WARTAPHOTO.NET. PATI – Perasaan panik sempat menyergap pikiran Fian, pria asal Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, pertengahan Mei lalu. Sore itu, ia baru saja selesai merapikan rambut di Among Barbershop yang terletak di Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa.

Rambutnya sudah dipotong rapi dan ditata klimis setelah helai demi helai dipangkas presisi oleh jemari Sunaryo (40), pemilik barbershop tersebut. Namun, saat hendak membayar, Fian tertegun. Ketika tangannya merogoh saku celana, ia baru menyadari bahwa dompet beserta uang tunainya tertinggal di rumah.

Di tengah kebingungan tersebut, Sunaryo dengan tenang tersenyum. Sembari menunjuk ke sudut meja kasir, pria yang sudah menekuni dunia pangkas rambut lebih dari satu dekade itu menenangkan pelanggannya.

“Tenang saja, Mas. Di sini sudah bisa pakai QRIS,” tiru Fian mengulang ucapan sang barber ketika diwawancarai Wartaphoto, Minggu (28/6/2026).

Sunaryo saat memotong rambut pelanggannya. (Foto: Angga/WP)

Mendengar hal itu, Fian menghela napas lega. Beruntung, ponsel pintarnya ada di genggaman. Tanpa perlu drama pulang ke Trangkil untuk mengambil dompet atau mencari mesin ATM terdekat, Fian cukup membuka aplikasi m-banking di ponselnya, mengarahkan kamera ke lembaran kode batang Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI di meja kasir, dan memindainya dalam hitungan detik. Transaksi pun sukses seketika.

Bagi Fian, pengalaman sore itu menjadi bukti nyata betapa pentingnya modernisasi alat pembayaran di tingkat desa. Kemudahan digital membuat hal-hal tidak terduga seperti kelupaan membawa dompet bukan lagi menjadi sebuah kendala besar.

Bagi Sunaryo sendiri, kehadiran QRIS BRI yang diadopsinya sejak April 2023 memang dia niatkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan solusi bagi para pelanggan. Selain menyelamatkan pelanggan yang lupa membawa uang tunai seperti Fian, fitur digital ini diakuinya sangat membantu mengatasi persoalan klasik di kasir, terutama urusan uang kembalian.

“Kadang ada pelanggan yang membawa uang pecahan besar, sementara saya tidak punya uang cash untuk kembalian. Dengan adanya QRIS ini, proses pembayaran di barbershop menjadi sangat praktis,” jelas Sunaryo yang setiap harinya menangani 7 hingga 10 pelanggan ini.

Tidak hanya di meja kasir, Sunaryo juga memanfaatkan ekosistem digital BRI untuk mengelola perputaran roda usahanya. Lewat aplikasi BRImo, urusan operasional Among Barbershop dikendalikan dari genggaman. Mulai dari belanja kebutuhan penunjang barbershop secara daring, mengisi token listrik tempat usaha, hingga membayar tagihan WiFi bulanan, semuanya tuntas lewat satu aplikasi.

Seorang pelanggan di Barbershop Sunaryo tampak memindai QRIS untuk melakukan pembayaran. (Foto: Angga/WP)

Efisiensi yang dirasakan oleh Fian dan Among Barbershop ini sejalan dengan misi yang diusung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Ahmad Muflihin Taiyeb, Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, menjelaskan bahwa integrasi QRIS dan BRImo memang dirancang sebagai pendorong utama modernisasi UMKM di daerah.

Menurut pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini, kedua fitur tersebut ibarat dua mata pisau yang saling melengkapi untuk memangkas kerumitan transaksi masa lalu.

“Ibarat dua mata pisau, QRIS dan BRImo itu harus ada. Kami berupaya mengubah transaksi manual ke digital bagi masyarakat, melalui berbagai program literasi dan edukasi,” terang Ahmad Muflihin Taiyeb.

Melalui sinergi teknologi inilah, langkah Sunaryo dalam mengadopsi QRIS bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan potret nyata bagaimana pelaku usaha lokal di Wedarijaksa mampu naik kelas dan adaptif terhadap kebutuhan pelanggan modern.

Perkembangan QRIS dan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini turut menjadi sorotan para akademisi. Dosen Ekonomi Makro Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Suharno, mengungkapkan bahwa data resmi Bank Indonesia hingga tahun 2025 menunjukkan pengguna QRIS telah mencapai puluhan juta dengan lebih dari 39 juta merchant. Dari jumlah tersebut, sekitar 93 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.

Suharno memaparkan bahwa berbagai penelitian, seperti riset Sholihah dan Nurhapsari (2023) serta Salim dan Nopiansyah (2023), membuktikan penggunaan QRIS meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pencatatan keuangan, dan mendongkrak penjualan. Bahkan riset terbaru Chyntia dkk. (2025) menyimpulkan adanya pengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan pelaku UMKM.

Namun, Suharno mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk melihat teknologi ini secara lebih luas dari sekadar alat transaksi jasa potong rambut seperti yang dirasakan Fian.

“QRIS bukan sekadar alat pembayaran digital. Dalam perspektif ekonomi digital, QRIS merupakan infrastruktur data yang memungkinkan UMKM membangun rekam jejak transaksi, yang sebelumnya sulit diperoleh ketika seluruh transaksi dilakukan secara tunai,” ujar Suharno.

Meski begitu, ia menekankan pentingnya literasi digital yang merata agar tidak tercipta kesenjangan baru antara UMKM yang fasih teknologi dan yang belum memiliki kemampuan tersebut.

Apa yang dialami pelanggan di Among Barbershop menorehkan cerita penting. Sunaryo kini sukses mendirikan simbol modernisasi usaha lokal di Wedarijaksa. Melalui keterampilan tangan Sunaryo memegang alat cukur dan kemauan untuk mengadopsi QRIS BRI, Among Barbershop membuktikan bahwa UMKM di tingkat desa juga tidak boleh gagap zaman. Menjawab tantangan zaman, meski beroperasi di desa, UMKM tetap harus siap memberikan kenyamanan bagi pelanggan setianya, kapan pun, dan dalam situasi apa pun.

Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close