16
September
2026
Rabu - : WIB

Pantai Bulumanis Kidul Pati Tercemar Limbah Tapioka dan Sampah

wartaphoto
2026/07/25 pada Berita, Pati, wartaphoto
Kondisi Pantai Bulumanis Kidul Pati yang tercemar limbah dan sampah

PATI | WARTAPHOTO.NET – Kondisi Pantai Lestari di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, semakin memprihatinkan. Destinasi wisata kebanggaan warga setempat tersebut kini tertutup limbah industri tapioka dan sampah rumah tangga.

​Berdasarkan pantauan di lokasi, hamparan pasir pantai sepanjang satu kilometer nyaris tak terlihat karena tertutup tumpukan limbah kulit ketela. Kondisi ini diperparah oleh sampah plastik hingga popok bekas yang berserakan di sepanjang bibir pantai.

​Pencemaran parah ini membuat warga maupun wisatawan enggan berkunjung. Akibatnya, deretan gazebo di sepanjang pantai tampak terbengkalai dan mulai rusak karena tidak terawat.

​Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, mengungkapkan bahwa limbah dan sampah buangan dari wilayah atas telah mengotori pantai selama bertahun-tahun. Sampah-sampah tersebut terbawa aliran dua sungai yang mengapit desa mereka, yakni Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan.

​”Ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kami mendapat kiriman sampah dari wilayah atas karena desa kami diapit oleh Sungai Suwatu dan Sungai Pangkalan. Setiap hari banyak sampah masuk ke pantai kami,” ujar Susanto, Sabtu (25/7/2026).

​Ia menjelaskan, Pemerintah Desa (Pemdes) sebenarnya telah berupaya mempercantik pantai dengan membangun gazebo, menanam pohon, hingga membetonisasi jalan akses. Namun, tumpukan limbah dan sampah yang terus berdatangan membuat upaya tersebut sia-sia.

​”Kami sudah berusaha mempercantik pantai ini karena merupakan warisan nenek moyang. Kami menanam banyak tumbuhan, tetapi keadaannya memang seperti ini, jumlah sampahnya luar biasa,” keluhnya.

​Kendala terbesar bagi Pemdes Bulumanis Kidul adalah keberadaan limbah kulit ari ketela dari industri tapioka yang jumlahnya mencapai puluhan ton. Limbah tersebut sulit diolah dan membuat tanaman di sekitar pantai mati.

​Menurut Susanto, kompensasi tahunan sebesar Rp7 juta yang diterima pihak desa dari industri tersebut jauh dari cukup, bahkan tidak memadai untuk biaya perawatan sungai.

“Kami tidak kepingin menutup perusahaan atau apa, kami tidak. Tapi ketika mereka kaya raya, kami juga ingin dapat bagian hidup yang layak juga seperti yang lain,” pintanya.

Selain berharap solusi dari industri tepung tapioka, Susanto juga menggantungkan penyelesaian masalah dari pemerintah. Permintaannya tak muluk-muluk. Pihaknya hanya berharap air sungai yang dialiri limbah itu bisa dirasakan manfaatnya oleh warga.

“Harapan kami pada pemerintah kabupaten, provinsi, pusat untuk betul-betul bagaimana solusinya. Karena ini bagian dari hajat hidup kami. Bagaimana mengelola sampah-sampah ini, bagaimana supaya air limbah bisa lebih bisa dimanfaatkan, sehingga kehidupan kami bisa lebih baik,” tandas dia.

Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close