16
September
2026
Rabu - : WIB

Kekeringan Terjadi di Desa Kletek Pucakwangi, Pamsimas Mati Total

wartaphoto net
2026/09/08 pada Berita, Pati

PATI | WARTAPHOTO.NET – Puluhan warga Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, memadati bak penampungan air berpenutup terpal pada Senin (7/9/2026). Berbekal jeriken, galon, dan ember, mereka rela mengantre sejak pagi demi mengamankan pasokan air bersih.

​Senyum lega warga merekah saat truk tangki air yang ditunggu akhirnya tiba. Warga langsung beringsut mendekat, bersiap secara bergantian menciduk air menggunakan timba kecil untuk mengisi wadah-wadah yang sudah berjejer.

Bagi warga Kletek, bantuan air bersih merupakan momen yang sangat disyukuri. Pasalnya, dalam sebulan terakhir mereka bergantung pada bantuan dermawan yang jadwal kedatangannya tidak menentu.

​Secara geografis, Desa Kletek berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kabupaten Pati. Akses menuju desa ini terhambat oleh kondisi jalan yang rusak parah. Hal tersebut kerap membuat penyalur bantuan lebih memilih mendistribusikan air ke lokasi yang lebih mudah dijangkau.

​Salah satu warga, Siti Naimah, menjelaskan bahwa desanya telah menjadi langganan krisis air bersih selama puluhan tahun. Saat bantuan tidak kunjung datang, warga harus mencari air ke desa tetangga, mengais alur sungai, hingga menggali sumur dangkal.

​”Kekeringan ini sudah terjadi sejak saya kecil. Kalau musim kemarau tiba, kami harus mengambil air ke desa tetangga, di sungai, atau menggali sumur,” ujar Siti.

​Siti menambahkan, struktur tanah kapur (padas) membuat sumur-sumur warga mengering saat kemarau. Proses pengeboran pun sulit dilakukan karena lapisan tanah keras serta sumber air dalam yang sukar ditemukan.

​”Sumur ada, tetapi saat kemarau sumber airnya kering. Tanah di bagian dalam berupa padas sehingga tidak bisa dibor. Kedalaman sumur paling maksimal hanya 10 meter,” ungkapnya.

​Kondisi tersebut juga menyebabkan fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tidak berfungsi sejak lama. Pamsimas yang dibangun beberapa tahun lalu itu bergantung pada embung yang kini ikut mengering saat kemarau.

​”Pamsimas sudah tidak berfungsi sekitar lima tahun,” kata Siti.

​Menurut Siti, kekeringan tahun ini merupakan salah satu yang terparah, serupa dengan kondisi pada 2024 lalu. Warga memperkirakan kemarau masih akan berlangsung hingga November atau Desember.

​Warga lainnya, Anis, mengungkapkan bahwa setiap rumah tangga menyiapkan belasan hingga puluhan galon untuk menyimpan pasokan air.

​”Saya menyiapkan 14 galon. Untuk keluarga yang jumlah anggotanya lebih banyak, kebutuhan galonnya tentu lebih banyak lagi,” tutur Anis.

​Pasokan 14 galon air tersebut hanya cukup untuk kebutuhan memasak, sanitasi, mandi, mencuci pakaian, hingga memberi minum ternak selama dua hari.

​”Jika pasokan air terlambat sehari saja, stok langsung habis,” tambahnya.

​Apabila bantuan tidak kunjung datang, warga terpaksa mencari air ke sumur-sumur di area persawahan luar desa dengan jarak tempuh minimal 1 kilometer.

​Perwakilan Relawan Kemanusiaan Pati, Heru Sudiharto, menyatakan bahwa pihaknya memprioritaskan Desa Kletek yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blora tersebut karena wilayah ini relatif jarang tersentuh bantuan akibat akses jalan yang sulit.

​”Informasi yang kami terima menyebutkan warga sudah berhari-hari tidak mendapat bantuan air bersih. Oleh karena itu, Relawan Kemanusiaan Pati memprioritaskan desa ini,” kata Heru.

​Dalam kurun waktu empat hari, lembaga relawan tersebut telah menyalurkan bantuan air sebanyak dua kali. Pada Jumat (5/9), mereka mengirimkan satu truk tangki berkapasitas 8.000 liter, diikuti dengan pengiriman dua truk tangki berkapasitas total 16.000 liter pada penyaluran berikutnya.

​”Semoga bantuan ini dapat bermanfaat untuk meringankan beban warga di tengah kekeringan yang melanda wilayah Pati,” pungkasi Heru.

Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close