03
Oktober
2026
Sabtu - : WIB

Ancaman Gagal Panen Intip Petani Margorejo, Sungai Juwana Mengering Total

wartaphoto net
2026/09/18 pada Pati

PATI | WARTAPHOTO.NET— Ancaman gagal panen menghantui para petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Dampak kemarau panjang yang tak kunjung usai membuat areal persawahan mengering dan tanaman padi yang siap bulir terancam mati tanpa hasil.

Tanaman padi milik warga saat ini rata-rata sudah memasuki usia 70 hari—fase krusial ketika bulir padi seharusnya terisi penuh. Namun, krisis air melumpuhkan harapan tersebut.

Salah seorang petani setempat, Kamelan, mengungkapkan bahwa Sungai Juwana yang menjadi tumpuan utama irigasi telah mengering total selama satu bulan terakhir.

“Umur 70 hari ini sudah mulai berbulir. Saatnya bulir itu terisi untuk kemudian menjadi gabah. Tapi kalau kering seperti ini, bulir tak bisa terisi, akhirnya kering dan kosong,” kata Kamelan.

Harapan lain melalui pasokan air Waduk Logung pun pupus akibat kerusakan pada jaringan saluran irigasi. Sementara itu, mengandalkan aliran dari Waduk Kedungombo dinilai hampir mustahil karena jaraknya yang terlalu jauh. Kini, para petani hanya bisa bergantung pada keajaiban hujan.

Demi menyelamatkan tanaman dari kekeringan ekstrem, sebagian petani memilih jalan nekat dengan membuat sumur bor mandiri. Namun, langkah darurat ini menuntut biaya operasional yang sangat mencekik.

Satu titik sumur bor membutuhkan modal hingga Rp10 juta. Biaya tersebut belum termasuk penarikan instalasi listrik yang jalurnya bisa mencapai dua kilometer hingga ke tengah sawah. Sebagian petani yang memiliki tabungan tentu masih dapat menggunakan simpanan modal yang tersisa.
Namun bagi petani yang tidak memiliki tabungan, terpaksa terjerat utang demi menutup biaya pembuatan sumur dan listrik.

Situasi ini terasa makin ironis di tengah melonjaknya harga gabah di pasaran. Saat ini, harga gabah merangkak naik ke kisaran Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram, bahkan bisa lebih tinggi dibanding tahun lalu yang berada di angka Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram.

Sayangnya, potensi keuntungan tersebut terancam sirna. Tingginya harga jual tak berarti apa-apa ketika modal perawatan membengkak akibat kekeringan, sementara risiko bulir padi hampa makin nyata di depan mata. Para petani di Jambean Kidul kini hanya bisa pasrah menanti ulur tangan pemerintah dan turunnya hujan.

Reporter: Anwaruddin

Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close