17
September
2026
Kamis - : WIB

Eksistensi Gong Cik Hampir Punah, Warga Pasucen Trangkil Meregenerasi secara Turun Temurun

wartaphoto
2023/02/12 pada Berita, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. TRANGKIL – Eksistensi kesenian bela diri Gong Cik kini hampir punah. Padahal, kesenian itu pernah masyhur di Kabupaten Pati pada zaman dahulu.

Namun demikian, lain halnya di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati. Warga di sana punya cara tersendiri untuk mengenalkan kesenian tersebut pada generasi sekarang. Yakni dengan cara mengenalkan Gong Cik turun temurun, dari sang ayah kepada anaknya.

Untuk diketahui, Gong Cik merupakan kesenian bela diri yang dimainkan secara berpasang-pasangan. Para pendekar mengenakan pakaian serba hitam seperti seragam pencak silat, lengkap dengan ikat kepala atau biasanya dengan peci hitam.

Pendekar yang beradu jurus serupa tari-tarian itu diiringi dengan tabuhan sejumlah alat musik. Seperi gong, ning nong, kendang dan jidor. Kesenian ini biasanya ditampilkan di acara hajatan maupun sedekah bumi.

Kesenian bela diri ini memiliki keunikan tersendiri, hanya saja belum dilirik untuk dikembangkan di dunia pendidikan. Hal itu diungkapkan salah seorang pelestari kesenian Gong Cik, Ahmad Faozi.

Warga Desa Pasucen itu berharap agar dunia pendidikan khususnya di Pati mengajarkan kesenian bela diri itu di sekolah-sekolah. Misalnya, sebagai kegiatan ekstrakulikuler sekolah.

“Padahal ini merupakan kesenian asli Pati. Harapannya ke depan tumbuh kesadaran untuk melestarikan kesenian ini bersama-sama. Khususnya melalui dunia pendidikan,” ujar dia saat ditemui di rumahnya, (12/2/2023) sore.

Pria yang menekuni Gong Cik sejak era 90-an ini mengharapkan agar pemerintah daerah bisa lebih memperhatikan kesenian tersebut. Sebab, kesenian ini dinilai memiliki nilai-nilai positif yang bisa diserap oleh generasi muda.

“Kalau saat ini regenerasinya ya alamiah. Saya bisa main, saya latih anak saya. Teman saya bisa, dia nglatih anaknya. Begitu terus sejak dulu,” tutur Faozi.

Ia menceritakan Gong Cik sudah dikenal masyarakat sejak era penjajahan. Warga berlatih bela diri itu untuk melawan para penjajah.

“Itu berkembang pesat di era penjajahan karena bisa membekali masyarakat untuk melindungi diri sendiri. Biar tidak ketahuan (penjajah), makanya dibekali dengan musik gamelan,” terang Faozi.

Pria yang kerap disapa Ocheng ini menambahkan, hingga saat ini Gong Cik masih eksis di desanya. Bahkan masih ada puluhan orang yang menekuni kesenian tersebut.

 

Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.

Foto : Dok. Pribadi Ahmad Faozi

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close