16
September
2026
Rabu - : WIB

Warga Juwana Olah Enceng Gondok Jadi Pupuk Organik 

wartaphoto net
2024/06/30 pada Berita, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.net. JUWANA– Enceng gondok dianggap menjadi salah satu biang pendangakalan sungai serta penghambat aliran air. Oleh sebab itu, masyarakat di bantaran sungai perlu meningkatkan upaya dalam memerangi tanaman liar ini.

Seperti halnya yang dilakukan Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan). Mereka membasmi tanaman enceng gondok di Sungai Silugonggo dengan cara mengolahnya menjadi barang bernilai guna.

“Teman-teman Jampisawan itu menilai bahwa pendangkalan di Sungai Juwana disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya sampah rumah tangga, sampah industri, sampah pertanian, dan enceng gondok. Ketika beberapa sampah itu bertemu kemudian terperangkap di enceng gondok, ini dapat mempercepat proses pendangkalan di sungai juwana,” kata Ari Subekti, salah satu anggota Jampisawan saat ditemui di rumahnya di Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Minggu (30/6/2024).

Menurut Ari, keberadaan enceng gondok juga dapat mengganggu para nelayan tradisional saat mencari ikan. Sebab, sering kali air sungai tertutup oleh tanaman liar tersebut.

“Sering kali muka air itu tertutup enceng gondok sampai sejauh 200 hingga 300 meter sehingga teman-teman nelayan akhirnya tidak jadi melaut. Enceng gondok ini sering menyangkut di baling-baling perahu tradisional dan menyebabkan baling-baling itu patah,” jelas dia.

Oleh sebab itu, lanjut Ari, Jampisawan kemudian mempunyai gagasan yakni mengolah enceng gondok menjadi pupuk organik Asam Humat.

“Kami punya gagasan bagaimana kalau enceng gondok diproses menjadi pupuk. Kenapa pilihannya menjadi pupuk itu karena kami melihat kalau dibuat pupuk kita bisa mengambil cakupan enceng gondok yang banyak, berbeda jika dibuat kerajinan dan lain sebagainya,” ungkap dia.

Meskipun demikian, ia menyadari jika upaya yang dilakukan Jampisawan ini belum memberikan dampak signifikan dalam mencegah sedimentasi pada Sungai Silugonggo.

“Sebetulnya jika ini hanya dilakukan Jampisawan kan tidak memberi dampak signifikan. Harapan kami bisa memberi contoh kepada pemerintah bagaimana desa desa yang di hulu sungai Juwana diberi pendidikan dan kemudian ada unit-unit kecil pengolahan enceng gondok di wilayah masing-masing. Selain mengurangi ketergantungan kepada pupuk kimia, itu juga akan membuka peluang lapangan kerja yang baru,” beber Ari.

Pupuk Organik Asam Humat Dinilai Cocok untuk Tanaman

Ari menuturkan, enceng gondok memiliki asam humat yang tinggi. Sehingga sangat cocok untuk lahan pertanian yang sering terendam banjir.

“Berdasarkan literasi yang kami baca, enceng gondok mengandung asam humat yang tinggi. Asam humat itu merupakan unsur pembenah tanah yang akan mengembalikan unsur hara dan mengikat unsur hara supaya tidak hanyut ketika terjadi banjir. Jadi pupuk enceng gondok ini sangat pas jika diaplikasikan di lahan pertanian yang sering terendam banjir. Karena mereka akan mengikat unsur hara. Misal di sawah, itu tidak larut dalam air,” tutur dia.

“Produksinya kami memiliki lokasi sekitar 100 meter persegi, kami hasilkan 400 kilogram cacahan. Ketika kemudian dijadikan pupuk bisa menghasilkan sekitar 700 kilogram pupuk padat dari enceng gondok. Kalau cair bisa lebih banyak lagi, setiap siklus kita bikin pupuk cair itu satu hari bisa menghasilkan dua drum besar, rata-rata 200 liter drum per hari,” imbuh dia.

Jampisawan pun membuat percobaan pupuk tersebut di beberapa lahan persawahan. Hasilnya, sangat cocok untuk ranaman timun suri dan jagung.

“Kemarin di wilayah Gabus untuk tanaman timun suri, ada dua perbandingan, yang satu murni menggunakan asam humat ini dan yang satu asam humat ditambah bahan kimia. Tapi hasilnya ternyata lebih bagus yang murni asam humat. Kemudian di Tambakromo kita coba di jagung dengan pupuk ini ternyata hasilnya juga bagus. Kalau padi memang baru musim tanam kemarin sehingga belum bisa melihat hasil yang jadi,” terang Ari.

Adapun alur proses produksi pupuk organik Asam Humat di antaranya menggunakan bahan cacahan enceng gondok 50 persen, kotoran hewan 25 persen, air kelapa, molase, bekatul, microenzim, tepung ikan dan air 10 persen, dan sekam padi 15 persen. Kemudian, difermentasi selama 9 hari. Setelah itu, proses penyaringan menjadi pupuk organik kasar, halus, dan cair.

“Untuk harganya yang padat Rp 10 ribu per kantong, untuk cair 5 liternya Rp 25 ribu,” tandas dia.

Reporter : Putra
Editor : A. Muhammad.

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close