16
September
2026
Rabu - : WIB

Perayaan Imlek Kerap Kali Hujan Bukan Semata Faktor Hoki, Ini Penjelasannya!

wartaphoto net
2025/01/28 pada Lifestyle, Nasional, Pati

WARTAPHOTO.net. NASIONAL. Tahun ini Imlek jatuh pada Rabu, 29 Januari 2025.  Perayaan Tahun Baru Imlek, seringkali diiringi oleh hujan. Fenomena ini, yang telah menjadi ciri khas Imlek terutama di Indonesia, sering dikaitkan dengan keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Namun, apakah hujan tersebut benar-benar karena faktor “hoki” semata? Berikut penjelasannya.

Simbolisme Hujan

Dalam kepercayaan Tionghoa, hujan pada saat Imlek dianggap sebagai simbol keberuntungan dan berkah. Mengutip dari The Daily, dalam mitologi Tiongkok, naga adalah makhluk ilahi yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan hujan. Naga sering dipuja dalam ritual untuk mendatangkan hujan, terutama di musim kemarau, sehingga hujan selama Imlek dianggap sebagai pertanda baik.

Dalam pandangan Feng Shui, hujan adalah elemen air yang menyeimbangkan energi Yin dan Yang. Air yang turun dari langit menyuburkan tanah, mengisi sungai, dan membawa keberkahan bagi kehidupan. Dengan begitu, hujan pada Imlek menjadi lambang penyeimbang alam yang dianggap membawa keberuntungan.

Kemudian, masih menurut konsep ilmu Feng Shui Yin dan Yang hujan adalah penyeimbang sinar matahari dan menjadi energi air yang artinya sungai kembali terisi, tanah kembali subur, dan lain-lain.

Sementara itu pada literatur Association of Asian Studies menyebutkan konsep tersebut juga mewakili segala aspek yang terkandung di dalam Yin yaitu lambat, lembut, feminim, dingin, basah, menyebar, dan pasif.

Tradisi Pertanian

Sejarah budaya Tionghoa yang kuat dengan tradisi agraris juga memengaruhi kepercayaan ini. Tahun Baru Imlek menandai awal musim semi, yang merupakan momen penting bagi para petani untuk memulai musim tanam. Hujan pada awal tahun baru dianggap sebagai pertanda baik untuk hasil panen yang melimpah sepanjang tahun.

Rizky Wardani, dosen Bahasa Mandarin di Universitas Negeri Jakarta (UNJ),  menjelaskan bahwa kata “hujan” (yu) memiliki pelafalan yang mirip dengan “surplus” atau “kenaikan”. Hal ini memperkuat kepercayaan bahwa hujan membawa rezeki dan keberuntungan.

Faktor Meteorologi

Di luar kepercayaan budaya, turunnya hujan saat Imlek di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh faktor alam. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan Januari hingga Februari merupakan puncak musim hujan di Indonesia. Ini terjadi setiap tahun dan bertepatan dengan penanggalan Lunar yang digunakan dalam perayaan Imlek.

Dengan demikian, hujan yang sering terjadi pada Imlek di Indonesia lebih berkaitan dengan pola musim hujan tropis daripada keberuntungan semata. Namun, hal ini tidak mengurangi makna simbolis hujan dalam budaya Tionghoa, yang tetap dianggap sebagai pertanda baik.

Meski hujan dianggap membawa berkah, masyarakat Tionghoa juga percaya pada pentingnya kerja keras.

“Keberuntungan itu bukan hanya soal hujan, tetapi bagaimana kita berusaha dan bekerja keras,” kata Rizky Wardani, dosen Bahasa Mandarin di Universitas Negeri Jakarta. Dalam pandangan ini, hujan adalah simbol, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada upaya manusia.

Hujan yang sering turun saat Imlek memiliki makna mendalam dalam budaya Tionghoa, baik sebagai simbol keberuntungan maupun berkah alam. Namun, di Indonesia, fenomena ini juga erat kaitannya dengan puncak musim hujan yang terjadi setiap awal tahun. Dengan memahami aspek budaya dan ilmiah ini, kita dapat melihat hujan saat Imlek sebagai kombinasi harmonis antara kepercayaan tradisional dan fenomena alam.

Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close