16
September
2026
Rabu - : WIB

Secangkir Kopi, Seribu Selawat: Kisah Santri Margoyoso Pati Sukses Bangun Bisnis Berkah Berkat KUR BRI

wartaphoto
2026/05/18 pada Berita, Feature, Lifestyle, Pati, wartaphoto
Abdullah Lutfi saat Menyajikan Kopi untuk Pelanggan di Kedai Original Santri Miliknya, Senin (18/5/2026).

WARTAPHOTO.NET. PATI — Sediakan kopi yang bayarnya cukup dengan selawat dan doa. Itulah rahasia dibalik kesuksesan usaha kopi milik Mokh. Abdullah Lutfi (33), hingga penjualannya bisa merambah pasar luar kota. Pria yang tinggal di Desa Semerak, Kecamatan Margoyoso, Kabupaen Pati ini membuka usaha kopi bubuk kemasan yang diberi nama “Original Santri”. Ia mulai membuka usahanya pada tahun 2019.

Pria yang pernah nyantri di Kajen Pati ini memang memiliki mentalitas santri yang mandiri. Awalnya, Lutfi hanya fokus berjualan kopi kemasan. Namun seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang hingga dirinya mampu mendirikan kedai kopi di rumahnya.

Di kedai itu, Lutfi tidak hanya menyediakan kopi siap minum, tetapi juga menjual biji kopi yang telah dipanggang (roasting) dan juga kopi yang telah digiling. Untuk produk kopi kemasan, ia jual dengan harga Rp20 ribu per 100 gram dan Rp200 ribu untuk kemasan satu kilogram. Sedangkan untuk kopi hitam siap minum, ia jual mulai Rp7 ribu per gelas.

Menyadari usahanya semakin berkembang, pada tahun 2023 Lutfi akhirnya memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp50 juta. Tambahan modal itu ia gunakan untuk memperbaiki fasilitas kedai dan menambah kapasitas produksi kopi kemasannya.

Alhamdulillah, dukungan modal ini sebagai stimulus yang membuat usahaku semakin berkembang,” kata dia kepada Wartaphoto, Senin (18/5/2026) di kedainya.

Kini, penjualan kopi kemasan Original Santri tidak hanya sebatas lokal Pati saja, tapi merambah ke berbagai wilayah di eks-Karesidenan Pati. Bahkan pembelinya juga ada yang dari Jawa Barat dan Jawa timur.

Sementara untuk usaha kedainya, juga menjadi primadona kalangan santri. Tempatnya yang dekat dengan Kajen “Kota Santri”, membuat kedai itu banyak dikunjungi anak-anak pondok.

“Setiap hari bisa menjual 25 sampai 50 gelas kopi. Pelanggan memang banyak anak-anak pondok. Ada dari Pondok Kajen dan juga dari pondok Pakis Tayu,” ucap Lutfi.

Satu hal yang melekat pada kedai milik Lutfi adalah program “Kopi Gratis” setiap hari Jumat. Pembeli yang datang tak perlu membayar sepeser pun untuk menikmati secangkir kopi. Sebagai gantinya, mereka cukup “membayar” dengan membaca selawat atau melangitkan doa untuk keberkahan bersama.

UMKM Pati: Kopi Kemasan Original Santri Milik Abdullah Lutfi

Tidak hanya itu, Lutfi juga kerap menyediakan kopi gratis setiap ada acara pengajian atau pun selawatan di wilayah Kabupaten Pati bersama dengan kelompoknya yang bernama “Berkah Songo”. Biasanya pihaknya menyediakan 1000 cup kopi gratis.

“Tujuannya, biar usaha semakin berkah. Semoga kopi Original Santri ini pasarnya semakin luas hingga ke luar Jawa,” kata bapak dua anak ini.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa KUR adalah alat BRI untuk membantu masyarakat. Menurutnya, keekonomian Pati sangat didukung oleh pemberdayaan masyarakat desa sehingga BRI berperan aktif di masyarakat desa.

“BRI membersamai masyarakat Pati berpuluh puluh tahun. Saya melihat pengusaha pengusaha Pati yang mulai beranjaknya dari usaha desa. BRI hadir di situ melalui petugasnya yang disebut mantri,” ucap pria yang memimpin BRI wilayah Kabupaten Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Khabib Sholihin, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menilai, UMKM merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, Ketika UMKM mampu berkembang secara sehat dan mandiri, maka perputaran ekonomi masyarakat semakin kuat.

Hanya saja, UMKM masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama pada aspek permodalan. Banyak pelaku UMKM memiliki produk yang potensial, tetapi mengalami keterbatasan dalam pengembangan usaha akibat akses modal yang terbatas.

“Hadirnya program pembiayaan seperti KUR dan berbagai fasilitas kredit usaha yang disalurkan melalui perbankan, termasuk BRI, menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” ungkap dia kepada Wartaphoto.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close