
WARTAPHOTO.NET. PATI – Menjaga harapan di tengah kepungan air asin selama dua tahun terakhir menjadi perjuangan tanpa henti bagi Siti Aminah. Warga Desa Tunggulsari RT 5 RW 1, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini tak pernah putus memanjatkan doa agar musibah yang menimpanya segera berlalu. Namun, ketika doa menjadi ranah spiritualitas, aksi nyata penanggulangan bencana di lapangan sejatinya tetap menjadi tanggung jawab pemerintah.
Sayangnya, selama uluran tangan dari pihak berwenang belum kunjung tiba, kediaman Siti-lah yang harus menjadi tameng. Rumah sederhana dengan paduan cat putih dan biru itu kini kondisinya memprihatinkan. Sebuah stiker bertuliskan “Keluarga Prasejahtera/Miskin, Penerima Bansos BPNT” yang menempel di dinding seolah menjadi penanda beban hidup yang dipikulnya. Kini, air laut setinggi 10 hingga 30 sentimeter merendam rumah tersebut, membuat fondasi dan dinding bagian bawahnya perlahan keropos akibat korosi air garam.
Saat memasuki bagian dalam rumah, pemandangan menyedihkan langsung terlihat. Dua buah kasur terpaksa ditumpuk di atas kursi agar tidak basah tergenang. Bukan hanya tempat tidur, hampir seluruh perabotan rumah tangga hingga alat-alat elektronik sengaja dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Langkah darurat ini menjadi satu-satunya cara bagi Siti agar barang-barangnya tidak rusak dan menambah beban kerugian finansial.
Siti menceritakan bahwa intensitas banjir rob dalam dua tahun terakhir ini memang mengalami peningkatan yang drastis. Jika dahulu luapan air laut hanya datang pada musim-musim tertentu, kini rob hampir menggenangi wilayahnya setiap hari. Bahkan, tahun lalu menjadi periode terkelam di mana air merendam permukiman selama tiga bulan penuh tanpa sekali pun surut.
”Banjir rob ini sudah berjalan dua tahun dan tidak pernah benar-benar surut. Biasanya pagi air datang, lalu sore atau malam baru mulai berkurang. Yang rahun kemarin, tiga bulan berturut-turut air tidak surut sama sekali,” ungkap Siti saat diwawancarai, Jumat (5/6/2026).
Letak geografis rumah Siti yang diapit oleh tiga area tambak membuatnya menjadi sasaran empuk luapan air laut. Kemalangan ini tidak dirasakannya sendiri; ada puluhan kepala keluarga lain di lingkungan RT 5 yang bernasib sama, menyaksikan ruang hidup mereka perlahan dikuasai air.
”Semua rumah di sini kebanjiran, Pak. Airnya masuk sampai ke dalam ruangan,” tuturnya lirih.
Melihat kondisi yang kian tidak menentu, lubuk hati Siti kecil sebenarnya sangat ingin mengungsi dan mencari tempat tinggal baru yang lebih aman. Namun, rantai kemiskinan mengikatnya erat-erat. Tanpa modal dan biaya yang cukup, ia tidak memiliki pilihan lain selain bertahan dan menerima keadaan dengan lapang dada.
”Kalau memang ada rezekinya, tentu ingin sekali pindah. Tapi di sisi lain ada rasa berat juga untuk meninggalkan tempat ini, karena saya lahir dan tumbuh besar di sini,” kata Siti.
Kini, di tengah ketidakpastian, Siti hanya bisa menitipkan asa kepada Presiden Prabowo Subianto agar mau menengok dan memikirkan nasib masyarakat kecil seperti dirinya. Keinginan Siti tidak muluk-muluk: ia hanya ingin tanggul penahan rob yang jebol semenjak tiga tahun lalu bisa segera diperbaiki secara permanen. Baginya, pertahanan yang kokoh adalah satu-satunya kunci agar rumahnya bisa kembali menjadi tempat bernaung yang aman dan nyaman.
”Harapan saya kepada Pak Prabowo, tolong segera dicarikan solusinya. Rumah kami terus-menerus kebanjiran seperti ini selama dua tahun. Penyebab utamanya karena tanggul di sini kurang kokoh dan jebol. Solusinya hanya satu, tanggulnya harus dibuat kuat supaya air laut tidak bisa lagi menjangkau permukiman warga,” tutupnya penuh harap.