
WARTAPHOTO.NET. PATI – Aroma biji kopi mentah yang berpadu angu tanah di lereng Gunung Muria pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Pramojo. Selama lebih dari dua dekade, pria kelahiran 1971 asal Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati ini menggantungkan hidup dari memproses biji kopi hijau (green bean) dan mengurus beberapa ekor kambing.
Namun, nasib seseorang tidak pernah terkunci di satu tempat bagi mereka yang berani melangkah menuju perubahan dan jeli membaca peluang. Kini, di usianya yang menginjak 55 tahun, nama Pramojo telah dikenal luas oleh masyarakat Gembong bukan lagi sebagai petani kopi biasa, melainkan sebagai sosok “Juragan Jeruk Pamelo” dan pemilik usaha ceriping (keripik) yang sukses.

Pramojo saat menjemur kopi yang baru ia panen. (Foto: Angga/WP)
Transformasi hidupnya tidak terjadi dalam semalam, melainkan berakar dari sebuah keberanian sekitar 20 tahun silam. Saat itu, ia memantapkan hati untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan modal awal Rp25 juta demi memperkuat fondasi bisnis kopinya.
Langkah awal itu rupanya menjadi pembuka jalan rezeki yang jauh lebih besar. Saat ditemui Wartaphoto di kediamannya, Rabu (24/6/2026), Pramojo mengenang kembali masa-masa merintis tersebut.
“Dulu saya beranikan diri ambil KUR. Tapi saya lupa persisnya tahun berapa pertama kali ambil. Saat itu Rp25 juta,” kenangnya.

Pramojo memetik jeruk pamelo dari kebunnya. (Foto: Angga/WP)
Seiring berjalannya waktu, kepercayaan perbankan kepadanya terus menebal hingga plafon pinjamannya menyentuh angka Rp100 juta tahun ini. Modal segar inilah yang kemudian ia jadikan bahan bakar untuk melompat ke sektor perdagangan yang lebih luas, menghidupkan potensi jeruk pamelo dan industri ceriping rumahan.
Gembong memang diberkati dengan tanah subur yang menjadi rumah ideal bagi jeruk pamelo, buah khas kebanggaan Bumi Mina Tani. “Saya ingin mengembangkan usaha ini karena jeruk pamelo adalah komoditas khas Pati. Harus ada yang membesarkannya,” ungkap Pramojo.
Usaha pamelonya kini terus menggeliat, di mana ia mampu menjaga ritme pasokan hingga 2 kuintal per bulan, melengkapi panen raya tahunan yang hasilnya bisa mencapai 2 ton per musim. Dengan harga rata-rata Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram, buah berkualitas dari tangan Pramojo ini telah merambah pasar luar daerah, menjadi langganan para pengepul dan pemaket besar untuk dikirim langsung ke Jakarta.

Istri Pramojo sedang mengupas singkong untuk dijadikan ceriping. (Foto: Angga/WP)
Naluri bisnis Pramojo tidak berhenti di sektor buah segar saja. Sejak tahun 2013, ia mulai melebarkan sayap ke sektor UMKM pengolahan makanan ringan dengan memproduksi ceriping. Mengusung semangat lokalitas yang kental, seluruh bahan baku yang meliputi talas, singkong putih, hingga pisang, ia serap langsung dari hasil bumi para petani di desanya. Kualitas premium yang ditawarkan membuat ceriping talas dan pisang buatannya laku di pasaran dengan harga Rp50.000 per kilogram, sedangkan untuk ceriping singkong putih dibanderol Rp32.000 per kilogram.
Di balik renyahnya setiap gigitan ceriping tersebut, terselip sebuah misi sosial yang mulia untuk merangkul sesama warga desa. Pramojo mempekerjakan empat orang tetangga dekatnya yang semula tidak memiliki penghasilan tetap agar bisa mandiri secara ekonomi. “Daripada (mereka) menganggur, saya ajak kerja untuk bantu-bantu. Hitung-hitung membuka lapangan kerja untuk tetangga,” tutur Pramojo.
Lewat tangan-tangan terampil ini, Pramojo mampu menjual minimal 50 kilogram ceriping per bulan. Jumlah ini sebenarnya bisa melonjak lebih tinggi seiring permintaan pasar yang terus meningkat, namun keterbatasan kapasitas produksi saat ini masih menjadi tantangan utama yang harus ia hadapi. Guna memenuhi target pasar yang kian meluas, ia sudah bersiap mengambil langkah taktis selanjutnya.
“Untuk memenuhi target pasar, ke depan saya mau ambil KUR lagi, kalau pinjaman ini sudah lunas,” jelasnya.

Geliat usaha mandiri dan semangat pantang menyerah seperti yang ditunjukkan oleh Pramojo inilah yang mendasari komitmen kuat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk untuk terus bergerak mendekat dan menyentuh sektor perdesaan. Area Head BRI Pati yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu, Ahmad Muflihin Taiyeb, menegaskan bahwa KUR merupakan alat utama bagi BRI untuk mengangkat kelas masyarakat bawah. Pria yang akrab disapa Iin ini mengamati sendiri bagaimana perekonomian Pati sangat ditopang oleh pemberdayaan masyarakat desa.
“BRI membersamai masyarakat Pati berpuluh-puluh tahun. Saya melihat sendiri pengusaha-pengusaha Pati yang sukses hari ini, banyak yang merangkak dan beranjak dari usaha kecil di desa,” ucap Iin.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan porsi portofolio penyaluran kredit BRI di sektor rural yang mencapai angka 83 persen, sebuah penanda tegas bahwa fokus bisnis bank pelat merah ini memang tertuju pada masyarakat suburban dan perdesaan.
Secara nasional, berdasarkan siaran pers BRI, akselerasi modal ini tercermin nyata dari data hingga April 2026, di mana BRI telah berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh penjuru Indonesia. Menariknya, mayoritas penyaluran sebesar 66,47 persen diarahkan ke sektor produksi yang meliputi pertanian, perikanan, dan industri pengolahan, dengan sektor pertanian sebagai kontributor terbesar yang menyerap Rp27,95 triliun atau setara 42,38 persen. Angka-angka ini mempertegas peran vital BRI dalam menjaga serta mendukung ketahanan pangan nasional langsung dari tangan para pelaku usaha lokal.
Langkah agresif dunia perbankan dalam mengucurkan modal usaha ini dinilai sudah sangat tepat oleh kalangan akademisi. Dosen Ekonomi Makro Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Suharno, memaparkan bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia yang menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap mayoritas tenaga kerja.
“Modal memang memungkinkan UMKM meningkatkan kapasitas produksi, membeli teknologi, dan memperluas pasar. Oleh karena itu, akses pembiayaan tetap menjadi instrumen penting dalam pembangunan ekonomi rakyat,” papar Suharno.
Kendati demikian, Suharno memberikan catatan kritis berdasarkan teori pertumbuhan bahwa modal finansial barulah sebuah syarat perlu (necessary condition), tetapi bukan syarat cukup (sufficient condition) untuk menjamin keberlanjutan usaha jangka panjang. Menurutnya, kegagalan banyak UMKM di lapangan sering kali dipicu oleh masalah klasik seperti rendahnya literasi keuangan, lemahnya manajemen internal, serta keterbatasan akses pasar.
“Oleh karena itu, kebijakan permodalan yang tidak disertai pendampingan berisiko menciptakan ketergantungan pembiayaan tanpa menghasilkan peningkatan produktivitas,” tandasnya mengingatkan.

Kebun Pamelo milik Pramojo yang berada di belakang rumahnya. (Foto: Angga/WP)
Bagi Pramojo sendiri, setiap tetes keringat dan kerja keras yang ia curahkan selama puluhan tahun di lereng Muria ini memiliki muara yang jelas, yaitu demi masa depan kedua anak laki-lakinya. Hasil jerih payah sebagai juragan pamelo dan ceriping telah mampu mengantarkan anak sulungnya lulus dari SMKN 2 Pati, sementara putra bungsunya saat ini masih meniti jalan ilmu di MTs Negeri 3 Pati.
Pramojo adalah bukti hidup bahwa keterbatasan geografis di sebuah desa bukanlah penghalang bagi seseorang untuk bermimpi besar dan berdaulat secara ekonomi. Melalui keberanian mengambil peluang modal, kecintaan pada potensi lokal, dan ketulusan untuk berbagi dengan sesama, seorang mantan petani kopi kini berhasil memetik manisnya buah kesuksesan dari bumi Muria.
Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen