
PATI | WARTAPHOTO.NET – Kerusakan terjadi pada Bendung Karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Bendungan yang kembali mengalami kebocoran tersebut mengancam pasokan air bagi ribuan hektare lahan pertanian padi yang berada di sepanjang aliran Sungai Juwana.
Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan, menyatakan bahwa kebocoran ini menyebabkan debit air tawar di Sungai Juwana surut drastis karena mengalir langsung ke laut. Selain menurunkan volume air tawar, kondisi ini juga memicu naiknya air asin dari laut ke aliran sungai sehingga air tidak lagi dapat digunakan untuk mengairi sawah.
”Saat ini petani baru memulai masa tanam ketiga dengan usia padi berkisar antara persemaian hingga 40 hari. Tanaman masih sangat membutuhkan pasokan air hingga empat bulan ke depan, sehingga jika dibiarkan, petani terancam mengalami gagal panen dengan potensi kerugian puluhan juta rupiah per hektare,” ujar Kamelan.
Menanggapi kejadian berulang tersebut, Juru Bicaranya Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mendesak pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Ia menilai perlu ada perhitungan ulang terkait kapasitas kekuatan bahan karet terhadap tekanan dan debit air sungai agar kerusakan serupa tidak terus berulang.
“Manajemen pengelolaan itu mungkin harus diperbaiki. Karena kami tahu sendiri beberapa Minggu sebelumnya ketika bendung itu ditutup, air sampai meluap cukup besar. Harusnya tekanan air dihitung dengan kapasitas kekuatan karet bendung itu,” ucap dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, mengonfirmasi bahwa potensi kehilangan hasil panen akibat kebocoran ini bisa mencapai 25.600 ton gabah kering panen. Pihaknya telah berkirim surat resmi kepada Gubernur Jawa Tengah dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana untuk meminta penanganan cepat.
Sambil menunggu langkah perbaikan teknis dari BBWS Pemali Juwana, Dispertan Pati telah menginstruksikan para penyuluh pertanian di lapangan untuk menerapkan manajemen pengelolaan air darurat demi menjaga pertumbuhan tanaman padi yang mayoritas masih berada di fase vegetatif.
“Saya melihat di lapangan ada tanaman yang usainya 10 hari setelah tanam, 15 dan 20 hari. Jadi yang jelas fase vegetatifnya membutuhkan air untuk pertumbuhan,” terang dia.
Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad