16
September
2026
Rabu - : WIB

Berawal Dari Rumah Panggung Sederhana, Kenji Sukses Dirikan “Kerajaan Bisnis Kopi” yang Mendunia

wartaphoto
Kenji saat menjemur biji kopi miliknya. Foto: Angga Saputra/WP

WARTAPHOTO.NET. PATI – Ada cerita menggugah di balik hamparan hijau pohon kopi yang tumbuh subur di lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.

Di antara ceri-ceri kopi yang memerah ranum, seorang pria bernama Kenji menguntai kisah perjuangan panjang.

Kisah itu membentang mulai dari episode rumah panggung yang dibangun dalam waktu sehari, perpisahan jarak jauh yang getir dengan sang belahan jiwa, hingga kejelian dan keberanian menangkap peluang di bidang agribisnis kopi.

Bagi pria berusia 47 tahun ini, kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan jalan panjang yang mengubah nasib keluarganya dari jeratan kesulitan ekonomi hingga mampu mendunia.

Kenji saat membersihkan rumah panggungnya yang sengaja tidak ia robohkan meskipun dirinya sudah membangun rumah baru. Foto: Angga Saputra/WP

Jauh sebelum namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha kopi jempolan di lereng Muria, kehidupan perekonomian rumah tangga Kenji dan istrinya sempat berada di titik nadir. Usai menikah, dengan modal seadanya dan keinginan kuat untuk mandiri, mereka mendirikan sebuah rumah panggung sederhana di Dukuh Pondokan, Desa Bageng.

“Dulu tinggal di rumah panggung ini setelah menikah, karena kami ingin mandiri, tidak ikut orang tua. Rumah ini dulu dibuat cuma dalam waktu satu hari dan langsung kami tempati,” kenang Kenji saat menceritakan masa-masa sulitnya kepada Wartaphoto.net, Selasa (16/6/2026).

Tekanan ekonomi yang kian menghimpit akhirnya memaksa sang istri mengambil keputusan berat dengan merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi. Sekembalinya ke tanah air pun, sang istri masih harus menghabiskan waktu di perantauan luar kota demi menyambung hidup.

Biji kopi di kebun milik Kenji yang sudah siap dipanen. Foto: Angga Saputra/WP

Sepulang mengadu nasib dari Arab Saudi, istri Kenji bekerja di Jepara. Baru setelah masa-masa perantauan yang penuh perjuangan itu usai, keduanya memutuskan menyatukan tekad untuk fokus merintis usaha kopi bersama sejak tahun 2000. Titik balik perjuangan mereka mulai terlihat pada tahun 2006 ketika harga kopi di pasaran melonjak sampai Rp13.000 per kilogram.

Melihat prospek yang cerah, geliat usaha Kenji tidak berhenti pada penjualan biji kopi mentah (green bean). Dia juga memutar otak dengan mempelajari pembibitan pohon kopi secara mandiri.

Bibit kopi robusta milik Kenji yang siap ditanam di kebunnya. Foto: Angga Saputra/WP

Langkah ini membawa Kenji menjadi penyedia kopi skala besar pada tahun 2011. Jangkauan penjualan biji kopinya meluas ke berbagai daerah di Jawa Tengah, antara lain Kudus, Rembang, Temanggung, dan Surakarta. Dia bahkan berhasil menjadi pemasok salah satu pabrik kopi di Solo.

Keberanian Kenji berinovasi berlanjut pada tahun 2014 saat ia meluncurkan merek kopi bubuk kemasannya sendiri yang diberi nama D’Kenji.

Produk kopi robusta ini dijual dengan harga Rp120.000 per kilogram dan dipasarkan di wilayah Jawa Tengah.

Kopi kemasan D’Kenji yang diproduksi oleh Kenji. Foto: Angga Saputra/WP

Langkah Kenji kemudian menemui momentum baru ketika ia memutuskan bermitra dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 2015. Kenji tercatat menjadi nasabah dampingan BRI.

Dua tahun berselang, ia memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp100 juta yang kemudian menjadi bahan bakar utama dalam mendongkrak kapasitas usaha.

Dukungan modal dan berbagai pelatihan digitalisasi, antara lain penyediaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta bantuan kemasan produk, terbukti ampuh membuat bisnisnya melesat hingga mampu memproduksi kisaran 50 ton kopi pada periode 2025–2026.

Selain itu, Kenji juga sukses memproduksi kopi bubuk kemasan D’Kenji dengan kapasitas rata-rata mencapai 1 kuintal per bulan.

Manfaat lain yang dirasakan Kenji ialah perluasan akses promosi dengan diikutsertakan dalam berbagai ajang pameran, salah satunya Bazar UMKM BRI di GOR Tri Lomba Juang pada Mei 2017.

Berkat konsistensinya, Kenji kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan skala regional dan nasional. Ia pernah didapuk menjadi narasumber dalam acara Pede Berilmu pada Pesta Rakyat Simpedes di Garut pada Agustus 2023.

Ia juga terlibat dalam aksi pemecahan rekor MURI minum kopi organik serentak sebanyak 15 ribu cangkir di Alun-alun Simpang Lima Pati pada November 2019 lalu.

Prestasi membanggakan juga dia raih saat mewakili Kelompok Tani Karya Utama Bageng dan menyabet Juara 2 Nasional Lomba Wana Lestari 2023 dari Kementerian Kehutanan di Jakarta.

Kenji saat meninjau penginapan miliknya. Foto: Angga Saputra/WP

Transformasi hidup Kenji kini terpampang nyata di Desa Bageng. “Rumah panggung satu hari” yang dulu menjadi saksi bisu perjuangannya kini telah berganti menjadi hunian permanen yang kokoh.

Lebih dari itu, hamparan ladang kopinya telah bersolek menjadi kawasan agrowisata edukasi lengkap dengan Kafe D’Kenji dan fasilitas penginapan. Keindahan panorama alam dan keaslian proses pengolahan kopi organik miliknya bahkan sukses memikat hati para pelancong internasional dari Jerman, Arab, hingga Tiongkok.

Bisa dibilang Kenji telah sukses mengembangkan usaha kopi dari hulu hingga hilir.

Menanggapi fenomena bermunculannya pengusaha lokal dari desa, Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, mengungkapkan bahwa keekonomian wilayah seperti Pati memang sangat ditopang oleh pemberdayaan masyarakat perdesaan.

Pria yang akrab disapa Iin ini menjelaskan bahwa BRI telah membersamai masyarakat Pati selama berpuluh-puluh tahun dan ia menyaksikan sendiri bagaimana para pengusaha di sana memulai langkahnya dari bawah di sektor rural.

“Saya melihat pengusaha-pengusaha Pati yang mulai beranjaknya dari usaha di desa,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Menurut Iin, BRI memang sangat aktif di perdesaan. Hal ini dibuktikan dengan 83 persen portofolio penyaluran kredit yang berada di sektor rural.

Secara nasional, peran pembiayaan modal bagi sektor akar rumput ini memang krusial, terlihat dari penyaluran KUR BRI yang mencapai Rp65,95 triliun hingga April 2026, dengan sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan sebagai penyerap terbesar dengan porsi mencapai 66,47 persen.

Dari total tersebut, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan penyaluran mencapai Rp27,95 triliun atau setara 42,38 persen.

Capaian ini tidak hanya menunjukkan peran dominan sektor pertanian dalam portofolio KUR BRI, tetapi juga mempertegas posisi Perseroan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Adanya penyaluran pembiayaan bagi pelaku UMKM juga menjadi perhatian khusus kalangan akademisi. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Munif Kholifah, menjelaskan bahwa bagi pelaku UMKM, modal dari perbankan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bahan bakar untuk tumbuh dan naik kelas.

“Dengan dukungan finansial yang tepat, pelaku usaha dapat berinovasi tanpa ragu, membuka lapangan kerja baru, dan bertransformasi dari usaha lokal menjadi penggerak utama roda ekonomi nasional,” ucap dia saat dihubungi Wartaphoto.

Keberhasilan Kenji mengelola komoditas lokal dari lereng Gunung Muria ini menjadi bukti nyata bagaimana produktivitas petani lokal yang disokong oleh ketepatan akses pembiayaan seperti KUR BRI mampu mengubah taraf hidup sekaligus menggerakkan ekonomi perdesaan secara berkelanjutan.

Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close