16
September
2026
Rabu - : WIB

Nestapa Warga Tunggulsari Tayu: Rumah Terendam Rob, Bentangkan Spanduk “Tolong Pak Prabowo” di Tengah Genangan

wartaphoto
2026/06/20 pada Berita, Pati, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. TAYU – Suasana di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati pada Jumat (19/6/2026) tampak berbeda. Di tengah kepungan banjir rob, puluhan warga berjalan perlahan menerobos genangan. Bukan untuk mengungsi, melainkan untuk menyuarakan isi hati yang sudah lama terpendam lewat aksi protes membentangkan poster-poster darurat.

Di atas air yang merendam permukiman mereka, tulisan-tulisan bernada keputusasaan itu dibentangkan tinggi-tinggi.

“Jangan biarkan kami tenggelam”, “Tolong Pak!!! Tambak kami hilang”, hingga sebuah pesan menohok yang ditujukan langsung ke Istana Negara: “Rumah kami akan tenggelam Pak Prabowo!! Tolong kami!”.

​Aksi ini menjadi puncak dari rasa cemas berkepanjangan yang menghantui warga akibat banjir rob yang kian hari kian memprihatinkan.

​Ketua RT 5 RW 1 Desa Tunggulsari, Budi Amanto, yang ikut basah-basahan di tengah genangan mengungkapkan, aksi spontan ini sengaja dilakukan agar jeritan warga yang berada di pesisir Pati ini bisa terdengar sampai ke pusat. Keinginan warga sebenarnya sederhana dan konkret: mereka ingin tanggul sepanjang 110 meter yang jebol segera diperbaiki secara permanen.

​”Saya berharap supaya pemerintah bisa melihat keadaan di sini dan terbuka hatinya untuk cepat membangun tanggul yang ada di Tunggulsari,” ujar Budi dengan nada penuh harap.

​Budi menceritakan banjir rob setinggi 70 sentimeter ini telah melumpuhkan urat nadi perekonomian desa. Desa yang biasanya hidup dari sektor perikanan kini mendadak mati suri. Tambak-tambak ikan nila yang menjadi tumpuan hidup warga hancur berantakan tersapu air pasang.

​”Warga sini mayoritas pekerjaannya petani tambak. Jadi otomatis (sekarang) kehilangan pekerjaan,” bebernya pedih.

​Ironisnya, di tengah kondisi karam yang sudah berlangsung sebulan penuh ini, bantuan dari pihak pemerintah justru dinilai masih sangat minim. Untuk sekadar minum dan memasak, warga kini mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Begitu pula dengan pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari.

Rukmini, salah satu warga setempat mengungkapkan, rob seolah sudah menjadi “menu wajib” harian selama dua tahun terakhir. Namun, satu bulan belakangan ini adalah yang terparah. Banjir tak lagi mengenal surut, bahkan cakupan wilayahnya meluas dari yang semula hanya merendam RT 5, kini sudah menginvasi wilayah RT 3 RW 1.

“Banjirnya kalau pas pagi air pasang, terjadi tiap hari,” keluh Rukmini.

​Karena tidak bisa bekerja dan ruang gerak terkunci oleh air, Rukmini dan tetangga-tetangganya kini hanya bisa pasrah menerima uluran tangan dari relawan atau sesama warga yang peduli.

​”Dikasih beras, kadang nasi bungkus. Kalau tidak ada nasi bungkus, ya terpaksa makan mi instan seadanya,” tutur dia.

Sebuah harapan besar, Rukmini dan warga lainnya gantungkan agar pemerintah segera membenahi pembatas air tersebut.

​”Ya segera ditanggulangi, dibenahi itu tanggulnya. Biar kalau ada air pasang, kami tidak kebanjiran lagi,” pungkas dia.

Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close