
WARTAPHOTO.NET. PATI – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 terus memperkuat eksistensinya sebagai ruang refleksi visual bagi narasi daerah. Memasuki titik pemutaran ke-4 dari total 6 rangkaian acara di wilayah Muria Raya, festival ini berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, pada Sabtu (25/4/2026) malam dengan menghadirkan sineas Warih Bayu sebagai narasumber diskusi.
Program yang didukung penuh oleh Dana Indonesiana dan LPDP ini bukan sekadar ajang pemutaran film biasa. FFAB hadir sebagai upaya kolektif merawat identitas budaya dan mendokumentasikan dinamika sosial yang kerap luput dari perhatian arus utama.
Tiga fragmen kehidupan dalam layar
pemutaran kali ini menonjolkan tiga karya dengan karakter visual dan pesan sosiologis yang kontras.
Pertama, ”Ulat-Ulat Menggeliat” persembahan dari Akar Rumput Pictures. Menampilkan potret mentah kehidupan masyarakat kelas bawah. Film ini menangkap daya tahan manusia “akar rumput” dalam mempertahankan denyut sosiokultural di tengah keterbatasan kekuasaan.
Kedua ”Mulih”, persembahan dari GsT Production. Sebuah elegi visual puitis yang mengeksplorasi makna kepulangan. Lewat ritme yang tenang, film ini menggugah pertanyaan apakah rumah adalah sebuah titik geografis atau sekadar ruang kenangan.
ketiga “Ujung Jakarta” persembahan dari Pillers Production. Sebuah potret sosiologis tajam tentang masyarakat yang bertahan di tepian megapolitan, berjuang agar tidak tergerus ambisi kota besar.
Kehadiran Warih Bayu di titik ke-4 ini bertujuan membedah lapisan pemikiran di balik karya-karya tersebut. Diskusi ini menjadi momentum krusial bagi sineas muda dan pendidik di Kabupaten Pati untuk memahami bagaimana ide personal dapat bertransformasi menjadi “arsip hidup” yang memiliki martabat estetika.
”Kekuatan sinema daerah terletak pada keberaniannya untuk tetap dekat dengan realitas dan kejujuran dalam bercerita,” ujar Warih.
FFAB 2026 akan melanjutkan perjalanannya menuju dua titik terakhir di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati, membawa misi konsisten, yakni merayakan suara-suara lokal melalui medium film.
(*/wartaphoto).