
WARTAPHOTO.NET. PATI – Aroma pekat kopi bakal menyergap siapa saja yang melintasi kawasan Gembleb, Kutoharjo, Pati. Di sana, sebuah kedai sederhana bernama Saung Kendi berdiri dengan kokoh sejak 2016.
Di atas sepetak tanah sewaan milik Kodim Pati itulah Luthfi Febri Adi Evan mengubah kegemarannya menjadi sebuah mesin bisnis berkelanjutan.
Pemuda asli Runting, Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati, yang akrab disapa Evan ini dengan jeli mengurasi biji-biji kopi terbaik, mulai dari kopi lokal kebanggaan Pati, keunikan rasa Temanggung, hingga eksotisme Flores dan Bali. Di tangannya, biji-biji kopi menjelma menjadi ragam menu yang memikat lidah pelanggan.
Bagi pencinta rasa klasik, ada seduhan kopi ireng tradisional seperti Tubruk Robusta yang merakyat, Kopi Kothok yang kental, Espresso, hingga kelembutan Filter Arabika.

Karyawan di Saung Kendi saat melayani pelanggannya. (Foto: Angga/WP)
Sementara bagi generasi muda, varian kopi susu kekinian dan segarnya kopi mocktail menjadi magnet tersendiri yang membuat kedai ini tak pernah sepi. Tak heran jika setiap harinya 50 hingga 100 cangkir kopi tandas dinikmati para pelanggan. Dibantu oleh tiga karyawan, Evan berbagi tugas menjaga kualitas pelayanan dan kebersihan kedai.
Setelah bertahun-tahun fokus pada bisnis kedai siap seduh, Evan melihat peluang yang lebih besar. Dia mengamati banyaknya roastery atau tempat penyangrai kopi yang kesulitan mendapatkan pasokan biji kopi matang berkualitas secara cepat.
“Dulu kami belum punya mesin roasting sendiri, semua bahan baku masih beli jadi dari luar. Padahal, kalau bisa memproduksi roasted bean sendiri, pasarnya sangat terbuka lebar,” kata Evan, Senin (29/6/2026).
Meski punya ide cemerlang, tanpa modal finansial tentu tidak ada artinya. Membeli mesin roasting modern bukanlah perkara murah bagi pelaku UMKM seperti Evan.
Beruntung, pada 2025 dia mengenal program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dia pun mengambil langkah berani dengan mengajukan pinjaman modal.
Dengan proses relatif cepat dan mudah, suntikan modal sebesar Rp33 juta berhasil ia kantongi untuk pembelian perlengkapan dan mesin roasting.
Keputusan Evan memanfaatkan fasilitas ini terbukti menjadi titik balik krusial bagi perjalanan Saung Kendi. Kini, kedainya bukan sekadar warung kopi di pinggir jalan, melainkan telah bermutasi menjadi penyuplai biji kopi sangrai yang diperhitungkan di kawasan eks-Karesidenan Pati.

Seorang pelanggan di Saung Kendi sedang menikmati minuman pesanannya. (Foto: Angga/WP).
Setiap bulannya, Evan mampu melepas 60 hingga 70 kilogram biji kopi ke pasaran. Produknya dikemas secara fleksibel, mulai dari Robusta kiloan seharga Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, hingga kemasan premium Single Origin Arabika 200 gram yang dibanderol Rp100 ribu hingga Rp120 ribu untuk menyasar para pencinta kopi rumahan maupun pemilik kedai lain.
Keberanian berinovasi yang didukung oleh pembiayaan yang tepat dari KUR BRI terbukti berbuah manis. Omzet usaha yang melejit tidak hanya membuat Evan mampu mengamankan dapur produksi dan menggaji para karyawan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup. Dari hasil keringatnya mengolah biji kopi, pemuda ini kini bisa merenovasi rumah dan meng-upgrade kendaraan pribadinya.
Kisah sukses Evan ini sejalan dengan visi perbankan dalam mendorong ekonomi daerah. Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa KUR memang menjadi alat utama bagi BRI untuk membantu masyarakat. Menurutnya, nadi perekonomian di Kabupaten Pati sangat didukung oleh pemberdayaan masyarakat desa, sehingga BRI berkomitmen untuk terus berperan aktif di dalamnya.
“BRI membersamai masyarakat Pati berpuluh-puluh tahun. Saya melihat banyak pengusaha Pati yang beranjak dari usaha desa,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Melalui KUR, BRI berupaya menyediakan bahan bakar finansial agar usaha dari sudut-sudut desa bisa beralih rupa menjadi penopang ekonomi yang tangguh.
Menjamurnya usaha seperti Saung Kendi ini turut diamati oleh akademisi lokal. Khabib Sholihin, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, menyoroti pesatnya perkembangan sektor UMKM di Bumi Mina Tani ini. Menurutnya, UMKM adalah salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Ketika UMKM mampu berkembang secara sehat dan mandiri, maka perputaran ekonomi masyarakat akan semakin kuat.
Hanya saja, Khabib tidak menampik bahwa aspek permodalan masih menjadi permasalahan klasik pelaku UMKM.
“Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan,” ungkap Khabib kepada Wartaphoto.

Di sinilah kehadiran program pembiayaan seperti KUR BRI menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM Indonesia.
Pada akhirnya, kisah Evan dan Saung Kendi menjadi sebuah bukti nyata, bahwa batas antara usaha kecil dan industri yang berkembang seringkali hanya sejauh satu langkah berani. Di tengah ketatnya persaingan, komitmen BRI mendampingi masyarakat dan hadirnya solusi finansial seperti KUR menjadi bukti bahwa sinergi antara perbankan dan pelaku usaha lokal mampu membawa mimpi UMKM untuk naik kelas.
Reporter: Angga Saputra
Editor: A. Muhammad