16
September
2026
Rabu - : WIB

Lepas dari Jerat Rentenir, Sukaryo Kini Kelola Transaksi Ratusan Juta Rupiah sebagai Agen BRILink di Pati

wartaphoto
Toko Milik Sukaryo di Desa Soneyan, Margoyoso, Pati, tidak hanya menyediakan sembako, tetapi juga berfungsi sebagai Agen BRILink. (Foto: Angga Saputra/WP)

WARTAPHOTO.NET. PATI – Sebuah warung kelontong sederhana berdiri di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Di balik dindingnya, jemari Sukaryo tampak selalu sibuk menekan-nekan tombol mesin Electronic Data Capture (EDC). Pria berusia 55 tahun itu tidak pernah menduga bahwa takdirnya akan berputar sejauh ini.

Lebih dari dua dekade lalu, ia pernah terjepit modal dan terpaksa berutang pada rentenir demi menggantungkan hidup dari berjualan kopi di pinggir jalan. Kini, ia telah bertransformasi menjadi urat nadi keuangan di desanya yang mengelola perputaran uang masyarakat hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.

Kisah Sukaryo merajut asa bermula pada tahun 2002. Dengan modal seadanya, ia nekat membuka sebuah warung kelontong. Namun, impiannya membentur dinding realita yang keras. Keterbatasan modal membuat rak-rak tokonya kosong melompong, belum ada barang dagangan yang bisa dipajang.

“Waktu itu toko terpaksa saya tinggal merantau (ke luar daerah), karena belum bisa mengisi barang-barangnya,” kenang Sukaryo saat ditemui Wartaphoto di kediamannya, Kamis (18/6/2026).

Sekembalinya dari perantauan, api semangat Sukaryo tetap menyala. Meski tetap belum cukup modal untuk mengoperasikan toko kelontong, ia memutar otak dan memilih bertahan hidup dengan menjadi penjual kopi di pinggir jalan. Agar bisa mengepulkan asap dapur, dengan berat hati ia terpaksa meminjam uang sebesar Rp300 ribu dari rentenir sebagai modal awal. Dia menyadari itu sebagai pilihan yang berisiko, namun tidak ada jalan lain saat itu.

Titik balik yang dinanti akhirnya datang pada tahun 2006 ketika ia memberanikan diri untuk mulai menabung di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Setahun berselang, modal yang perlahan-lahan dia kumpulkan dari setiap cangkir kopi yang terjual berhasil menghidupkan kembali warung kelontongnya yang sempat mati suri. Keberuntungan kian berpihak pada tahun 2008 saat seorang marketing BRI datang menawarkan pinjaman modal usaha resmi dengan bunga ringan. Tanpa ragu, Sukaryo menyambut kesempatan emas tersebut untuk menata ulang keuangannya.

“Akhirnya saya mulai dipinjami oleh BRI. Modal dari BRI itu langsung saya pakai untuk melunasi utang ke rentenir,” ujarnya.

Sukaryo, pemilik toko kelontong sekaligus Agen BRILink di Desa Soneyan, Margoyoso, Pati, saat mengoperasikan mesin EDC untuk melayani transaksi keuangan digital pelanggannya. (Foto: Angga Saputra/WP).

Sejak terlepas dari jeratan rentenir dan mendapatkan suntikan modal perbankan yang aman, toko kelontong Sukaryo kian berkembang dan terus diperbesar dari tahun ke tahun. Peluang untuk melompat lebih tinggi kembali mengetuk pintunya pada tahun 2018. Sukaryo kerap melihat para tetangganya mengeluh kesulitan mengakses layanan perbankan karena jarak desa yang jauh dari pusat kota. Tersentuh oleh kondisi tersebut, ia mengajukan diri untuk ikut serta dalam layanan kemitraan perbankan tanpa kantor.

Setelah melalui proses pengajuan dan verifikasi yang ketat, pada tahun 2019 Sukaryo resmi dinyatakan lulus uji dan tuntas sebagai Agen BRILink untuk wilayah Kantor Cabang (Kanca) Pati. Demi memperkuat likuiditas modal di tokonya, ia memanfaatkan fasilitas pinjaman BRI secara bertahap, mulai dari Rp20 juta, Rp50 juta, hingga puncaknya menyentuh angka Rp105 juta.

“Modal Rp105 juta itu memang saya khususkan untuk memperkuat perputaran uang di BRILink,” jelas Sukaryo.

Antusiasme masyarakat desa ternyata luar biasa. Hanya dalam waktu satu tahun, Sukaryo langsung mengambil mesin EDC di Kantor Cabang BRI Pati untuk mempermudah transaksi digital warga. Kini, warung kelontongnya telah bertransformasi menjadi pusat layanan keuangan mini yang sangat diandalkan. Tidak tanggung-tanggung, ia sekarang mengoperasikan tiga mesin EDC sekaligus untuk melayani pelanggan.

Dalam satu bulan terakhir, lapak mitra milik Sukaryo mampu mencatatkan hingga 1.400 transaksi dengan volume perputaran uang yang fantastis untuk ukuran sebuah dukuh. Sukaryo mengungkapkan bahwa perputaran uang per bulan kemarin sudah mencapai lebih dari Rp200 juta, di mana kebanyakan warga datang untuk melakukan transfer uang.

Mayoritas pelanggannya memanfaatkan layanan ini untuk keperluan transfer uang saku anak sekolah atau kuliah, pengiriman uang dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri untuk keluarga di kampung, hingga pembayaran berbagai tagihan. Keberadaan Agen BRILink milik Sukaryo sukses memotong jarak dan waktu, sehingga warga Desa Soneyan tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke ATM di wilayah Kecamatan Margoyoso.

Kesuksesan ini tidak dinikmati Sukaryo sendirian. Ia dikenal aktif membangun jejaring dengan komunitas Agen BRILink di tingkat Kecamatan Margoyoso hingga se-Kabupaten Pati. Saat ini, jaringan komunikasinya bahkan meluas hingga ikut dalam grup koordinasi wilayah Semarang. Lewat wadah ini, para agen bisa saling berbagi ilmu terkait kendala transaksi hingga menu-menu atau fitur baru. Sukaryo juga rajin menghadiri acara pertemuan rutin sesama agen, seperti yang baru-baru ini digelar di Kudus dan agenda mendatang di Bandungan, Kabupaten Semarang.

Langkah BRI merangkul sosok seperti Sukaryo dijelaskan oleh Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb. Pria yang akrab disapa Iin ini menyampaikan bahwa pihaknya hadir hingga ke desa-desa melalui Agen BRILink untuk mendekatkan pelayanan perbankan kepada masyarakat.

“Jadi kami bisa menjangkau daerah terjauh. Kalau mereka mau mengambil uang tunai, tidak perlu ke ATM. Agen BRILink bisa membantu masyarakat setempat,” ungkap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu tersebut.

Iin menjelaskan bahwa Agen BRILink dibentuk oleh BRI untuk memudahkan kegiatan transaksi sehari-hari masyarakat desa. Ia mengaku terkejut melihat performa para agen di lapangan yang bisa menembus 1.000 sampai 2.000 transaksi per bulan. Lebih dari itu, agen-agen ini kini mampu menghidupi diri sendiri karena masyarakat sangat membutuhkan kehadiran mereka di desa.

Iin mengimbuhkan bahwa kehadiran agen membuat warga tidak perlu lagi naik sepeda, becak, atau kendaraan lain ke ATM hanya untuk sekadar bertransaksi atau setor tunai. Sebagai contoh, jika ada anak desa yang kuliah di Jogja atau Jakarta, orang tua mereka tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk mengirim uang, cukup lewat agen BRILink terdekat semua sudah bisa dibantu.

Fenomena ini juga memantik perhatian dari dunia akademis. Menurut dosen Ekonomi Makro Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Suharno, BRILink merupakan salah satu model branchless banking terbesar di Indonesia. Berdasarkan data resmi BRI yang dia beberkan, jaringan Agen BRILink telah menjangkau jutaan masyarakat melalui lebih dari satu juta agen yang tersebar di puluhan ribu desa. Hal ini memungkinkan masyarakat serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melakukan transaksi perbankan tanpa harus datang ke kantor bank.

Suharno menilai dari perspektif teori inklusi keuangan, kondisi tersebut menunjukkan penurunan hambatan geografis (geographical barriers) dalam akses layanan keuangan. Sebagai ekonom, ia melihat BRILink sebagai inovasi kelembagaan yang berhasil memperluas akses keuangan hingga ke level desa.

Dalam konteks UMKM, akses yang lebih dekat terhadap layanan keuangan berpotensi menurunkan biaya transaksi, mempercepat perputaran modal usaha, dan meningkatkan integrasi UMKM ke dalam sistem keuangan formal. Namun demikian, ia mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menyamakan perluasan akses dengan peningkatan kesejahteraan.

Apa yang menjadi pertanyaan akademik sang ekonom tampaknya telah dijawab tuntas oleh realitas kehidupan Sukaryo. Bagi dia, inklusi keuangan bukan lagi sekadar teori rumit di atas kertas, melainkan sebuah lompatan nyata yang mengubah total garis hidup keluarganya. Ketegasannya untuk lepas dari rentenir dan memilih bermitra dengan perbankan resmi telah berubah menjadi berkah yang melimpah.

Sukaryo memungkasi kisahnya dengan penuh rasa syukur seraya menceritakan bahwa berkat dirinya menjadi Agen BRILink, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi, di mana salah satunya kuliah di Semarang dan yang lain masih menempuh pendidikan di Mathali’ul Falah Kajen. Di samping itu, keuntungan usaha ini juga telah mewujudkan impian mereka untuk membangun rumah yang layak.

Melalui lembar-lembar setruk transaksi BRILink yang keluar setiap hari, Sukaryo tidak hanya memutar roda ekonomi desanya. Ia telah menegaskan perjuangannya sebagai seorang ayah: mengubah peluh menjadi berkah, merajut masa depan anak-anaknya, dan mendirikan dinding-dinding rumah yang kokoh tempat keluarganya kini bernaung dengan tenang.

Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close